Minggu, 24 April 2016

Kebenaran Digital
Dwi Muchtar18.39 0 comments

Subjek individu dalam kehidupan ini sejatinya akan selalu mencari dan mendapatkan kenyataan. Kenyataan yang bersifat jamak, memiliki sumber yang beragam. Dalam era digital, dimana printed book menjadi barang yang sedikit mulai terpinggirkan, dimana mesin tik sudah tergolong dalam barang pubakala. Kondisi seperti ini, kenyataan muncul dari barang yang menyediakan informasi digital dimana kenyataan riil menjadi sempit ruangnya. Dan tidak mustahil, kenyatan riil menjadi tereduksi karena harus melalui proses hingga kemudian muncul dalam bentuk digital yang dimana peluang penyebarannya cukup besar. Setelah itu, kenyataan yang tersaji di dalam ruang digital diyakini sebagai sebuah kebenaran yang absolut atau kebenaran 100%.

Dalam situasi yang seperti itu, seberapa besar kemungkinan kenyataan riil akan punah ? mungkin belum 100%, tapi berjalan mengarah menuju angka tersebut. Kenyataan riil yang dimaksud disini adalah kenyataan yang memiliki emosi, kenyataan yang memiliki kontak secara langsung, kenyataan yang apabila dihadapkan kepada 5 orang yang memiliki latar belakang, pendidikan, dan pola pikir yang berbeda, tentu memiliki kesimpulan yang berbeda pula. Kenyataan yang disajikan secara digital, terima atau tidak terima sudah membentuk satu suara. Satu suara yang kemudian setelah daripada itu mencetak satu suara tersebut di dalam kepala yang beragam. Walau kepala yang beragam, namun tetap memiliki satu suara yang didapatkan dari kenyataan digital tersebut. Versi lain dari satu hal sudahlah persoalan lain. Celakanya, dari kenyataan digital tersebut, tidak sedikit dari subjek individu sudah menganggapnya sebagai kebenaran (bukan lagi kenyataan) yang absolut. Kemudian, dari penganggapan atas kebenaran yang absolut tersebut meningkat menuju penghakiman yang sah. Setelah dari penghakiman tersebut, tersebarlah vonis. Penyebaran vonis mencapai angka yang masif. Kemudian sudah ditebak apa yang terjadi kemudian. Penyeragaman vonis atas sebuah hal.


Kenyataan sebagaimana yang telah dipaparkan diatas, adalah bersifat jamak. Kenyataan teologi dan kenyataan sebuah peristiwa, tidak dapat disamaratakan dalam hal penafsiran keabsahannya. Apapun itu bentuk kenyataannya, kenyataan akan selalu dihadapkan pada satu dinding yang bernama ilmu. Penghadapan kenyataan terhadap ilmu, dilandasi oleh pola pikir yang kemudian akan membentuk sebuah kenyataan, atau produk kenyataan yang berbeda. Meskipun melewati filterisasi yang sama, namun, hasil akhirnya bisa saja berbeda. Perbedaan dalam sebuah kenyataan riil jauh lebih indah ketimbang keseragaman di dalam kebohongan.

Selasa, 19 April 2016

Bingkai PILKADA
Dwi Muchtar18.58 0 comments

Tidak ada pemilihan kepala daerah yang hangat dibicarakan selain pemilihan kepala daerah Ibu Kota. Sebagai barometer nasional, Jakarta menyimpan segudang sejarah, data, dan kisah. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, pemilihan kepala daerah dilaksanakan pada tahun depan, 2017. KPUD belum membuka pendaftaran Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, namun hingar bingar pilkada DKI Jakarta sudah terdengar. Tentu saja, hingar bingar yang terdengar selain dari cerita reklamasi Pantai Utara Jakarta, kontroversi RSSW, dan beberapa penggusuran-penggusuran yang mewarnai Ibu Kota.

Gubernur Ahok, sudah mengambil keputusan untuk menempuh jalur independen, terlepas dua partai besar turut mendukung Ahok dan pasangannya, Heru. Lawan yang digadang-gadang akan menghadapi Ahok-Heru kedepannya memang belum jelas, dalam artian belum memiliki nama yang pasti siapa yang menduduki calon DKI 1 dan 2. Banyak nama di atas permukaan, seperti, Prof. Yusril Ihza Mahendra, ahli hukum tata negara sekaligus advokat, Sandiaga Uno yang seorang pengusaha, Adhyaksa Dault seorang menteri pada masa pemerintahan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dan masih banyak nama lainnya.

Banyak hal yang menarik perhatian. Dari besarnya potensi politisasi kontroversi reklamasi Pantai Utara Jakarta, hingga kontroversi RSSW. Dari sederetan hal tersebut, yang mengambil perhatian paling besar adalah adanya sebuah konsep bahwa adanya sebuah gerakan untuk mencegah Ahok menjadi DKI 1 kembali. Terlebih lagi Ahok-Heru berdiri pada jalur independen, sedangkan lawan Ahok-Heru kedepannya berasal dari Partai – Partai Politik yang menurut pemahaman masyarakat luas Partai Politik tidak dapat dipercaya. Ditambah ditangkapnya seorang anggota DPRD terkait kontroversi reklamasi Pantai Utara Jakarta. Sudah dapat ditebak bagaimana gambaran masyarakat luas terhadap institusi bernama Partai Politik.

Pemilihan kepala daerah, dalam hal ini adalah Ibu Kota DKI Jakarta akan terlalu dangkal kalau dilihat dari frame image Partai Politik yang miring di hadapan masyarakat luas –mengenai hal ini akan lebih menarik apabila diangkat pada pembahasan tersendiri- , dan dengan begitu berpotensi munculnya anggapan yang berada di luar Partai Politik sudah pasti bersih, dan tidak menutup kemungkinan begitu juga sebaliknya. Pemilihan DKI 1 dan 2 tidak hanya dilihat dari “apakah calon dari Partai Politik tidak bersih, dan independen pasti bersih”, sudut pandang yang diangkat jauh lebih baik apabila pada program setiap calon dan melihat visi ke depan dengan beragamnya suku dan kelas sosial yang terdapat di Jakarta ini. Banjir dan kemacetan merupakan permasalahan klasik Ibu Kota. Jangan menjadikan permasalahan sebagai sebuah kebudayaan, namun bagaimana cara untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi permasalahan klasik tersebut. Pernah adanya sebuah wacana untuk mengkatrol jam masuk kantor agar mengurangi volume kendaraan yang berada di jalan, atau kebijakan plat nomor ganjil-genap. Tidak hanya dua masalah klasik tersebut, permasalahan pemukiman di bantaran kali juga menjadi konsentrasi tersendiri. Apakah di buat kampung deret atau digusur sebagaimana yang telah terjadi di beberapa titik. Sekurang-kurangnya tiga hal tersebut harus menjadi concern masyarakat DKI Jakarta secara luas. Karena DKI Jakarta bukan hanya jalan protokol dan tempat-tempat cafĂ© berdiri. DKI Jakarta adalah tempat berkumpulnya masyarakat menengah ke bawah, menengah, hingga kaum sosialita.

Selain faktor yang baru dipaparkan di atas, balance of power juga patut menjadi variabel yang diamati. Eksekutif dan legislatif bukanlah kucing dan tikus. Eksekutif sebagai eksekutor atas kebijakan-kebijakan yang ada dengan undang-undang sebagai payung hukumnya, dan legislatif adalah badan yang merumuskan payung hukum tersebut. Tidak hanya merumuskan, melainkan juga mengamati dan memonitor, sebagaimana fungsi dari badan legislatif. Akan menjadi timpang kalau dua institusi tersebut memiliki jurang pemisah yang sangat lebar. Adanya sebuah gap di dalam politik adalah sebuah kewajaran, namun apabila gap yang ada terlalu besar, akan terjadi ketimpangan yang dimana rakyat biasa yang menjadi korbannya. Jangan karena ingin memburu satu tikus di sebuah rumah, seluruh rumah yang dibakar.


Pendaftaran Calon DKI 1 dan 2 masih beberapa bulan ke depan. Hingar bingar terkait pertarungan tahun depan sudah terdengar. Anggapan-anggapan negatif, baik itu terhadap calon yang berasal dari Partai Politik maupun independen sebisa mungkin dibuang jauh-jauh. Bukan bermaksud untuk menggurui, namun berusaha mengajak melihat sesuatu atau beberapa hal dengan kepala dingin dan pandangan yang bersih. Sebagaimana tulisan yang pernah saya buat, menjadikan diri sendiri berdaulat, dan jangan biarkan disi sendiri di dikte oleh kekuatan luar dari diri kita. Jakarta bukan kota yang berdiri dari awal millennium. Jakarta juga menjadi saksi perjalanan sejarah bangsa ini. Terlalu kecil memandang Jakarta sebagai kota metropolitan. Jakarta adalah masa lalu, hari ini, dan masa depan.

Minggu, 14 Februari 2016

“Kalo Makan Jangan Berantakan Dong …”
Dwi Muchtar20.02 0 comments

Kita biasa menjumpai meja tempat kita menyantap makanan adalah berbentuk persegi panjang. Orang Indonesia sering bilang, “kalo belom makan nasi, belom makan namanya…”. Nasi putih diletakkan di tengah-tengah. Pusat dari meja makan. Lauk pauk berada di sekeliling nasi putih tersebut. Ada empat tempat duduk, semuanya terisi. Mereka saling mengambil lauk pauk yang ingin disantapnya. Sebelumnya tentu saja mengambil nasi putih terlebih dahulu. Tentu mereka berteman satu dengan lainnya. Mengobrol sembari menyantap makanan yang ada dihadapannya.

Saat satu orang bicara, yang lain ikut memerhatikan. Terus seperti itu. Namun, hukum tersebut tidak berlaku seragam. Saat satu orang berbicara, ada satu orang yang asik menyantap makanannya, sedangkan dua lainnya memerhatikan, walau memang salah satu dari dua orang yang memerhatikan ada yang sembari menyantap makanannya. Tidak jarang di antara mereka ada yang menyantap makanannya dengan tidak rapih, berantakan. Ada lauk yang berjatuhan di meja makan, ada nasi putih yang jatuh di meja makan, dan ada juga kuah sup yang jatuh. Meja makan itu terlihat tidak rapih, tidak sebersih sebelum mereka berempat menyantap makanan mereka masing-masing di meja makan tersebut.

Saat salah satu dari mereka berbicara, orang yang terus menyantap makanan yang ada dihadapannya sudah selesai, tidak memedulikan kondisi kebersihan meja makan tempat ia makan, ia membawa piring dan gelasnya ke dapur. Orang yang terus berbicara ini mendapat tanggapan yang baik dari dua temannya. Salah satu dari temannya ada yang menyantap makanannya, dan ada juga yang memerhatikannya berbicara sembari menyantap makanan yang ada dihadapannya. Salah satu dari temannya yang terus menyantap makanannya, tiba-tiba sudah selesai menyantap makanannya, dan membawa piring serta gelasnya ke dapur. Yang berbicara ini terus berbicara, apa yang keluar dari mulutnya memang pembicaraan yang berisi. Dari politik hingga sejarah ia keluarkan. Dari matematika hingga kimia ia jabarkan. Satu temannya mendengarkan dengan seksama. Saat orang yang terus berbicara ini sedang membicarakan filsafat, satu temannya yang tersisa sudah menyelesaikan santapan makanannya, seperti dua teman sebelumnya, ia membawa piring serta gelasnya ke dapur. Setelah ia sadar bahwa ia adalah satu-satunya yang belum menyelesaikan santap makanannya, ia segera bergegas menyelesaikan menyantap makanannya. Dan setelah ia menyelesaikan makanannya, ia diam, mungkin ia merasakan rasa kenyang yang cukup luar biasa. Kemudian ia memerhatikan setiap sudut meja makan. Meja makan tempat ia dan tiga temannya menyantap makanan sangat jauh dari kata rapih dan bersih. Ia membatin dalam hatinya, “kalo makan jangan berantakan dong… gue juga akhirnya yang beresin.”


Rabu, 10 Februari 2016

Mencoba Menghitung 2017
Dwi Muchtar21.42 0 comments


source : https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Peta_Jakarta.gif&filetimestamp=20050615204753&


Tahun depan ibu kota Indonesia akan melaksanakan pemilihan kepala daerah, atau pilkada. Nama kuat yang akan maju sebagai orang nomor satu DKI ini adalah Basuki Tjahaja Purnama. Disamping itu, sempat juga tersiar kabar wali kota Surabaya akan mengisi pos DKI 1 ini, namun kabar terakhir menyatakan bahwa Tri Rismaharini mengurungkan niatnya untuk maju sebagai competitor Basuki Tjahaja Purnama. Kemudian, dua nama yang akrab di telinga masyarakat yang kemungkinan akan maju sebagai competitor Basuki Tjahaja Purnama adalah Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno. Memang belum terbentuk secara bulat apakah dua nama itu disandingkan sebagai Cagub dan Cawagub, atau hanya salah satu dari mereka berdua yang masuk sebagai competitor Basuki Tjahaja Purnama. Dua nama tersebut masuk dalam bursa kandidat calon pemimpin DKI yang diusung oleh Partai Gerindra.[1]

Basuki Tjahaja Purnama akan maju bertarung di Pemilihan Kepala Daerah melalui jalur independen. Memang, politik itu dinamis, tidak ada yang dapat memastikan dengan betul apakah Ahok akan maju melalui jalur independen atau diusung oleh salah satu Partai Politik. Sebagaimana yang kita ketahui, pada Rakernas PDI-P 2016 ini, Ahok hadir di tengah-tengah acara Partai berlambang banteng moncong putih tersebut. Kehadiran Ahok tidak dapat disamakan dengan kehadiran Fadli Zon sebagai Wakil Ketua DPR dari Partai Gerindra. Walau, kehadiran Fadli Zon juga sebenarnya menarik untuk didiskusikan. Kembali pada Ahok, yang pasti, ia telah memenuhi batas minimal verifikasi untuk maju sebagai calon independen. Ahok dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan tidak pandang bulu. Terlepas penampilannya di depan media yang sering kali mendapatkan kritikan, bagi beberapa orang, kerjanya cukup nyata. Salah satu contoh prestasi yang diketahui oleh public luas adalah pembangunan infrastruktur yang telah lama tertunda, yaitu pembangunan MRT. Pembangunan MRT yang seolah hanya mimpi belaka, pada masa kepemimpinannya mulai dikerjakan. Disamping prestasi yang diketaui secara luas, tentu seorang pemimpin tidak akan pernah lepas dari kontroversi. Salah satunya adalah penggusuran di kampung pulo yang menimbulkan reaksi besar dari kalangan masyarakat setempat. Belum lagi kerap isu SARA merebak luas di kalangan masyarakat ibu kota ini.  
Lain Ahok lain pula dengan Ridwan Kamil. Walikota Bandung yang disebut-sebut akan meramaikan PILKADA DKI Jakarta ini memang 11-12 dengan Ahok dalam hal tokoh muda yang dibicarakan oleh masyarakat luas. Salah satu pencapaian yang di capai oleh kang emil –sarapaan akrab dari Ridwan Kamil- adalah jalanan rusak yang berkurang drastis, sebagaimana yang di klaim oleh kang emil sendiri.[2] Selain itu kang emil juga mengklaim, turunnya angka korupsi di kota kembang tersebut, walau kang emil juga mengakui masih ada beberapa oknum yang masuk ke dalam lingkaran tersebut.[3] Sebagaimana yang didapatkan oleh Ahok, kang emil juga mendapatkan kritikan. Salah satu kritikan yang didapatkan adalah pencapaian yang dicapai oleh kang emil belumlah substansial. Kalaupun prestasi yang dicapai adalah perbaikan dalam hal birokrasi, belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat kota bandung.[4] Memang, secara penampilan public, kang emil berbeda dengan Ahok yang sedikit terlihat lebih galak dan lebih sering mendapat kecaman atas gaya komunikasi yang dilakukannya. Namun, pada tanggal 15 Januari 2016, penjaringan yang dilakukan oleh Partai Gerindra, kang emil tidak dapat hadir karena umroh. Dan, ia juga menyatakan tidak berminat mengikuti pertarungan DKI 1.[5] Sebagaimana yang juga telah dipaparkan di atas, politik itu dinamis, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepannya.

Nama ketiga adalah Sandiaga Uno. Berbeda dari dua nama sebelumnya, Sandiaga Uno dikenal sebagai pengusaha muda sukses. Sepak terjangnya di kursi pemerintahan sama sekali belum teruji. Namun untuk urusan bisnis atau perniagaan, janganlah ditanya apa yang telah dicapai oleh Sandiaga Uno. Pekerja yang pernah tergabung di dalam Bank Summa ini merupakan pendiri perusahaan investasi PT. Saratoga Investama Sedaya. Pada tahun 2009, Sandiaga Uno masuk urutan ke 29 dari 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.[6] Dengan masuknya Sandiaga Uno menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia menjadi bukti nyata bagaimana kiprah dari pengusaha muda ini. Dan itu merefleksifitaskan bahwa nama Sandiaga Uno masih terdengar pada kalangan menengah ke atas saja. Tentunya itu menjadi batu ganjalan tersendiri bagi Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut untuk bertarung memperebutkan kursi DKI 1.

Dari tiga nama yang disebutkan, belum ada calon tetap yang maju sebagai kandidat dari satu partai tertentu atau calon independen. Apa yang terjadi kedepannya dapat berubah sewaktu-waktu. Apabila Ahok maju sebagai calon Independen, dan Gerindra memajukan Bakal Calon Gubernur salah satu dari dua nama yang disebutkan diatas, maka yang patut di tunggu adalah nama untuk Bakal Calon Wakil Gubernur yang akan menemani dari Partai Gerindra. Bisa dari PDI-P, atau PKS. Namun, melihat situasi politik dewasa ini dimana PDI-P menjadi the ruling party, cukup mustahil bagi PDI-P untuk bersedia bertarung demi mendapatkan kursi DKI 2. PKS memang tidak dapat berbicara banyak pada 2012 silam, namun perubahan perspektif masyarakat mungkin dapat dijadikan isu tersendiri bagi PKS untuk bertarung di dalam PILKADA 2017. Yang tidak kalah menarik adalah apabila Gerindra dan PDI-P sama-sama bertarung untuk memperebtukan kursi DKI 1. Pasangan yang pada awalnya akur, berubah menjadi saling serang.  

Memang, awal tahun 2016 masih terlalu dini untuk membicarakan PILKADA DKI Jakarta 2017, namun, tiga nama yang disebutkan di atas tidak dapat dipandang sebelah mata. Kemungkinan pertengahan tahun ini semarak PILKADA baru terdengar. Pertarungan-pertarungan survey akan kita saksikan, lobby-lobby partai politik tertentu juga tidak kalah menariknya. Semoga tidak ada peristiwa kotor yang menodai pesta demokrasi tersebut.