Senin, 20 Oktober 2014

Perahu Kertas (part 1)
Dwi Muchtar18.04 0 comments

By : Chairandy Fajri (@chairandy)


http://id.wikipedia.org/wiki/Perahu_Kertas_(film)



Apa yang Anda harapkan ketika mengetahui salah satu novel kesukaan Anda akan diangkat ke layar lebar? Berharap adaptasi film yang akan divisualisasikan tidak jauh berbeda dan mengecewakan dari versi novelnya adalah sesuatu yang wajar dan realistis, alih-alih versi film hanya mengandalkan nama besar novelnya. Pada film Perahu Kertas yang diadaptasi dari novel karya Dewi ‘Dee’ Lestari.

Sebelum film Perahu Kertas beredar, Dee yang juga berperan sebagai penulis naskah cerita sudah mengingatkan ketika di wawancara oleh salah satu situs jaringan bioskop Indonesia bahwa adaptasi film tersebut akan memiliki sejumlah perbedaan dengan versi novelnya.

Dengan kata lain, akan ada penambahan dan pengurangan adegan. Menurut saya, bila memang sebuah film adaptasi akan berbeda dengan versi novelnya, seharusnya segala sesuatunya benar-benar berbeda sejak awal, baik dari segi konflik maupun alur. Walaupun ada kemiripan, cukuplah dengan kadar 20-30%.  Dengan demikian, para pencinta novelnya tidak berekspektasi lebih. Entah karena kadar sok tahu saya yang memang dewa atau kenyataan, saya yakin lebih dari 50% penonton film ini adalah mereka yang sudah membaca novel Perahu Kertas.

Tentunya, mereka yang sudah membaca novel Perahu Kertas berharap dapat merasakan ketepatan visualisasi Kugy yang mampu mengajak pembacanya bersimpati dengan kesedihan, kebahagiaan, dan kekecewaan yang dirasakannya.
Gadis mungil dengan karakter unik dan nyentrik ini selalu berpenampilan semaunya dengan jaket lusuh milik abangnya, berbeda dengan wanita berumur 17 tahun lainnya yang fashionable. Selain itu, penonton juga berharap adanya ketepatan penggambaran Keenan, Romeo-nya mother of alien ‘Kugy’, pemuda blasteran yang mencintai seni lebih dari apa pun dan tidak peduli dengan sekelilingnya.

Namun, apa yang terjadi dengan Kugy dan Keenan versi baru? Well, silahkan menonton film nya yang rilis pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu

Sabtu, 18 Oktober 2014

Tendangan dari Langit (Part 2)
Dwi Muchtar18.17 0 comments

by : Chairandy Fajri (@chairandy)





Jika ditanya soal level fanatik bangsa ini terhadap olahraga sepakbola, saya tidak perlu ragu untuk menjawab “sangat tinggi”, Indonesia punya banyak penonton “gila bola” yang tidak hanya suka nonton pertandingan bola dan rela nongkrong di depan televisi untuk menonton tim kesayangan mereka main. Nah, pada saatnya masyarakat pecinta bola ini terpanggil untuk mendukung tim nasional, tidak peduli status yang menempel di tubuh mereka, semua jadi satu menyorakkan satu kata, yaitu “Indonesia”.

Tidak perlu jauh-jauh, jika masih ingat ajang piala AFF yang berlangsung beberapa tahun lalu , kita bisa melihat seperti apa kecintaan masyarakat Indonesia kepada sepakbola. Nasionalisme bukan lagi omong kosong ketika kita melihat puluhan ribu suporter me-merahkan Gelora Bung Karno, yup sepakbola bisa menyatukan bangsa ini dan bangsa ini memang cinta sepakbola.

Namun lain soal jika berbicara soal film lokal yang mengangkat tema sepakbola, ketika masyarakat begitu mencintai sepakbola, film bertema sepakbola justru tidak banyak. Dari puluhan film lokal yang muncul setiap tahunnya, film bertema olahraga, khususnya sepakbola bisa dibilang dapat dihitung dengan jari. Termasuk salah-satunya yang paling berkesan adalah “Garuda di Dadaku” (2009), film arahan Ifa Isfansyah tersebut, walau masuk dalam kategori film anak-anak, namun dikemas dengan benar dan sukses menjadi tontonan yang menghibur bagi orang dewasa juga. Kita butuh tontonan yang membuat semangat.

Kali ini sutradara ternama Indonesia Hanung Bramantyo mencoba sesuatu yang baru, kali ini untuk yang pertama kalinya, Hanung menggarap film bertema sepakbola. “Tendangan Dari Langit”, memang film yang dibuat untuk menghibur namun disini Hanung seperti karya-karya sebelumnya, tampak tetap ingin menyisipkan sebuah “sentilan”, untuk urusan sentil-menyentil tersebut film ini memiliki Sujiwo Tejo, kali ini tentu saja yang jadi “korban” adalah sepakbola di negeri ini.


Tapi itu hanya sebagian porsi “pemanis” dari apa yang akan ditawarkan film yang ceritanya ditulis oleh Fajar Nugroho (Queen Bee) ini, tendang-menendang si kulit bundar tetap jadi sajian utama.



TDL akan memperkenalkan kita dengan Wahyu, remaja berusia 16 tahun yang jiwa dan hatinya dipenuhi impian, serta cinta sekali dengan yang namanya sepakbola. Wahyu yang lahir dari keluarga pas-pasan dan tinggal di Langitan, sebuah desa di lereng gunung Bromo ini tidak hanya cinta sepakbola, tapi juga dikarunia untuk bisa pintar memainkan bola.

Karena bakatnya itu, Wahyu sering dipanggil untuk bermain di sebuah tim bola dalam pertandingan antar desa, dengan bantuan Hasan (Agus Kuncoro), pamannya, sebagai “manajer”. Tim yang diperkuat olehnya pun selalu menang dan Wahyu sering mendapatkan bayaran yang tidak sedikit untuk kemenangannya. Tapi kecintaan Wahyu terhadap sepakbola selalu terganjal oleh ayahnya (Sujiwo Tejo), yang tidak setuju anaknya bermain bola. Tentu saja, walau dilarang Wahyu tetap “bandel” dan  suatu hari takdir menghampirinya, mimpi untuk bisa bermain bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di Persema akan segera terwujud.

Tidak hanya Wahyu yang mimpinya bermain di Persema bisa terwujud, tapi juga saya, mimpi untuk melihat film bola yang seru akhirnya dikabulkan, melalui “Tendangan Dari Langit”. Film ini pun memang menceritakan tentang meraih sebuah impian, lewat cinta, kemudian mimpi itu berhasil diwujudkan, walau ditempeli berbagai dramatisasi disana-sini, TDL masih mampu menggambarkannya dengan sangat baik. Sekilas mengingatkan saya dengan film-film bertema olahraga ala Hollywood tapi tidak meninggalkan citarasa lokalnya. Masih ingat dengan film “Goal! The Dream Begins” (2005), bisa dibilang TDL adalah versi Indonesia-nya, saya bilang “versi” bukan berarti menjiplak, tapi mengikuti sebuah standar film “from zero to hero” yang selama ini sudah ada.

TDL tinggal meracik formula yang bisa dibilang “tidak baru” itu dan memasukkan unsur-unsur yang nantinya bisa dibilang Indonesia banget, hasilnya seperti yang saya bilang tadi ala Hollywood tapi masih bercitarasa negeri sendiri. TDL memang di luar ekspektasi saya, berasumsi film ini hanya biasa saja, tapi seperti terkena bola yang ditendang kencang oleh Hanung, saya lalu menyadari telah menonton film sepakbola yang secara mengejutkan seru sekali.

TDL jelas dibuat untuk menghibur kita dengan segala macam keseruan didalamnya, tapi disana juga banyak pelajaran yang bisa dipetik, ceritanya tidak membosankan dan dengan pemilihan dialog-dialognya yang menurut saya sangat tepat, film ini menjadi semakin nyaman untuk diikuti sampai selesai.

Kisah persahabatan Wahyu dengan Mitro (Jordi Onsu) dan Purnomo (Joshua Suherman) digambarkan begitu tulus dan terkadang terselip juga kelucuan-kelucuan diantara mereka. Kisah romansa Wahyu dengan Indah (Maudy Ayunda) juga disajikan dengan manis tidak cengeng dan berlebihan. Hubungan Bapak dan anak-lah yang tampaknya begitu menyita perhatian hati saya, begitu menyentuh dan chemistry antara Yosie Kristanto dan Sujiwo Tejo begitu apik, begitu juga akting yang ditampilkan keduanya, juara! “Tendangan Dari Langit” sudah sukses menghibur dan juga menyentuh hati penontonnya. Dengan kawalan Faozan Rizal, yang sudah sering bekerja sama dengan Hanung, dibalik kamera, alam Gunung Bromo pun dipotret dengan ciamik, menghasilkan gambar-gambar indah sebagai “sesaji” untuk memanjakan mata penonton.

Senin, 13 Oktober 2014

Tendangan dari Langit (Part 1)
Dwi Muchtar16.25 0 comments

http://id.wikipedia.org/wiki/Tendangan_dari_Langit

Tendangan dari Langit adalah film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo yang diproduksi oleh SinemArt pictures yang dibintangi oleh Irfan Bachdim, Kim Kurniawan, Maudy Ayunda, Giorgino Abraham, Jordy Onsu, Joshua Suherman, Agus Kuncoro, Sujiwo Tejo, Natasha Chairani, Yosie Kristanto dan Mathias Ibo yang dirilis pada tanggal 26 Agustus 2011 pada saat libur lebaran.

Film ini menceritakan tentang Wahyu seorang remaja yang memiliki kemampuan luar biasa dalam bermain sepakbola. Ia tinggal di Desa Langitan di lereng gunung Bromo bersama Ibunya dan Ayahnya seorang penjual minuman hangat di kawasan wisata gunung api itu.


Demi membahagiakan orang tuanya, Wahyu memanfaatkan keahliannya dalam bermain bola dengan menjadi pemain sewaan dan bermain bola dari satu tim desa ke tim desa lain dengan bantuan Hasan, pamannya. Sayangnya Pak Darto, ayah Wahyu sangat tidak menyukai apa yang dilakukan anaknya.

Suatu hari saat Wahyu bermain bola dengan rekan-rekannya, keahlian istimewanya tak sengaja dilihat oleh Coach Timo yang tengah hiking bersama Matias di lereng Bromo. Pelatih Timo kemudian menawari  Wahyu untuk datang ke Malang dan menjalani tes bersama di klub sepak bola di Malang yaitu Persema Malang.

Sayangnya, berbagai ujian dalam meraih kesempatan emas bermain bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di Persema mendapat banyak halangan. Selain harus memilih antara cintanya kepada Indah dan impiannya untuk bermain bola di jenjang yang lebih tinggi, Wahyu juga harus mampu meyakinkan Pak Darto. Belum lagi ternyata Hasan memiliki kepentingannya sendiri terhadap Wahyu.

Selain berbagai rintangan yang harus ia hadapi, layaknya seorang pemain bola sebelum mencetak gol, Wahyu juga harus menghadapi tantangan terakhir dari dirinya sendiri. Sebuah penyakit yang biasa menyerang anak-anak usia enam belas tahun seperti Wahyu.

Berhasilkah Wahyu mencapai impian nya untuk menjadi pemain sepakbola terkenal? Apakah penyakit yang diidap oleh Wahyu?

Well, langsung aja ke film nya, udah ada 2 film dengan genre olahraga sepakbola waktu itu, yaitu Garuda di Dadaku dan Tendangan dari Langit. Garuda di dadaku memiliki target pasaran anak-anak usia sekitar 10-13 tahun. Tendangan dari Langit menargetkan remaja, melihat tokoh yang muncul dari film tersebut.

Karena target pasaran nya adalah remaja, otomatis konflik yang diangkat disini lebih berat, seperti tokoh Hasan yang ternyata memanfaatkan Wahyu demi kepentingan pribadi, masalah hubungan asmara Wahyu dengan Indah menjadi terganggu dalam mencapai impian wahyu untuk menjadi pemain sepak bola di jenjang yang lebih tinggi.
Semenjak Garuda di Dadaku, film yang bertemakan olahraga mulai bermunculan. Di tengah-tengah hiruk-pikuk itu, Tendangan dari langit merupakan film yang patut diperhitungkan dengan kualitas cerita nya yang cukup baik.

Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan menjadi magnet tersendiri bagi film ini, banyak penonton berbondong-bondong untuk melihat mereka bermain di film layar lebar. Di satu sisi, film Tendangan dari Langit ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka berdua.

Set yang diambil untuk latar tiap scene di film nya sangat mengagumkan. Dimana lokasi syuting yang sangat luar biasa seperti Bromo, dan Stadion Gajayana Malang.

Soundtrack diisi oleh salah satu band rock terbaik di Indonesia, yaitu Kotak dengan judul lagu yang sama dengan judul filmnya. Di samping itu juga ada beberapa lagu lainnya seperti Cinta Jangan Pergi dan Energi yang merupakan lagu dari album milik Kotak yang bertajuk Energi yang rilis pada tahun 2011.

Jumat, 10 Oktober 2014

Dapur Film untuk Industri Film Indonesia
Dwi Muchtar15.02 0 comments


Melihat atau bahkan mendengar kata-kata Dapur Film, hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah sebuah rumah produksi konvensial seperti rumah produksi-rumah produksi lainnya yang mengejar keuntungan semata. Namun, Dapur Film dapat berbicara di luar daripada itu. Dapur Film bukanlah sebuah rumah produksi konvensional lainnya. Dapur Film adalah sebuah sanggar kreatif yang melahirkan para pekerja seni yang tidak terbatas hanya pada tataran film layar lebar semata. Dapur Film juga berbicara dalam tataran film dokumenter dan masih banyak lainnya. Berdiri pada tahun 2003, Dapur Film memiliki cita-cita menciptakan para anak muda kreatif yang terjun ke dalam dunia film.Menciptakan anak-anak muda yang kreatif yang dilakukan oleh Dapur Film juga bukan seperti layaknya sekolah ataupun institusi kesenian pada umumnya. Dapur Film menciptkan para pekerja seni melalui workshop yang ada. Workshop yang diadakan oleh Dapur Film juga tidak seperti workshop-workshop pada umumnya yang hanya membicarakan film dan beberapa hal teknis lainnya secara umum. Dalam Dapur Film, workshop yang diadakan mendapatkan pengkhususan tersendiri, yaitu Workshop Acting dan Workshop Directing. 

Dalam Workshop Directing diisi oleh pengajar berpengalaman seperti, Hanung Bramantyo untuk hal penyutradaraan, Cesa David Luckmansyah untuk permasalahan editing, Titien Watimena untuk penulisan skenario dan Faozan Rizal untuk hal-hal yang memiliki kaitannya dengan kamera. Setelah itu, kelas Workshop yang ada selain Directing seperti yang telah dipaparkan diatas, adalah kelas Workshop Acting. Untuk Workshop Acting, Dapur Film akan mengarahkan kepada pihak-pihak yang memang memiliki kompeten di dalam dunia acting. Beberapa pihak yang akan mengisi kelas Workshop Acting adalah Hanung Bramantyo, Norman Akyuwen, Ibnu Widodo, Tony Steve dan satu instruktur tamu (bintang film). Materi yang diberikan kepada para peserta Workshop adalah latihan Tehnik Dasar sampai dengan Tehnik Menguasai Skenario.

http://dapurfilm.com/wp-content/uploads/2010/12/Workshop_011.jpg 

http://dapurfilm.com/wp-content/uploads/2010/12/Workshop_081.jpg

Dapur Film tidak hanya mencetak anak muda-anak muda kreatif yang dapat menghasilkan sebuah karya yang dapat menyejukkan dunia film Indonesia. Dapur Film juga telah menelurkan film-film berkualitas yang mendapatkan berbagai macam penghargaan. Salah satunya adalah Sang Pencerah. Sang Pencerah yang di dalamnya terdapat beberapa aktor-aktor kawakan menyabet lebih dari lima penghargaan pada tahun 2011. Lain Sang Pencerah lain juga dengan Get Married. Film Get Married ini sendiri menyabet dua penghargaan pada tahun 2007 dan mendapatkan nominasi lebih dari 4 kategori. 

http://en.wikipedia.org/wiki/Sang_Pencerah

http://en.wikipedia.org/wiki/Get_Married_(film)


Dari dua film itu saja, sudah menjadi bukti kalau Dapur Film memang memproduksi film-film yang berkualitas dan tidak sembarangan seperti yang sering kita lihat sekarang-sekarang ini. Film-film berkualitas yang ditelurkan oleh Dapur Film tidak hanya dua film yang penulis bahas diatas. Ada beberapa film lainnya seperti Cinta Tapi Beda (2012), Lentera Merah (2006), Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan masih banyak lainnya. Bagaimanapun juga, kualitas adalah sebuah komitmen yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bagi Dapur Film. Kualitas dan regenerasi para anak muda kreatif yang akan mewarnai dan memberi angin sejuk bagi dunia perfilman Indonesia adalah komitmen mutlak bagi Dapur Film.