Laman

Sabtu, 13 April 2013

Senin, 03 Desember 2012

Laser Game Yang Mendebarkan

Gw mau sharing tentang pengalaman gw bermain laser game dengan temen-temen gw. Waktu itu dapet invitation untuk nyoba permainan laser game. Mungkin sebagian pembaca beberapa kali pernah denger deh tentang permainan ini. Untuk yang ngetopnya ada di daerah kemang. Kebetulan banget baru buka di daerah kelapa gading. Basicnya permainan ini mirip airsoftgun dan paint ball, cuman nggak ada yang namanya rasa sakit. Jadi salah satu motto laser game adalah " NO PAIN AND NO PAINT".
Untuk lokasi sih nggak jauh dari pintu 3 kelapa gading. Tempatnya cozy banget untuk ruang tunggu, ada nintendo wii + sofa untuk nunggu giliran main. Lagi under construction ruang tunggu VIP dan mini golf. Planningnya sebelum natal sudah selesai. 
Kita take a look untuk battle fieldnya, bisa dibilang unik banget. Kenapa? semua ruangannya gelap dan dihiasi gambar-gambar glow in the dark dan kalo pake baju warna putih bakalan nyala di ruangan itu, so kalo mau main jangan pake baju warna putih yah! bakalan jadi sasaran tembak! hahahahahaha
Untuk aturan main bisa dibilang cukup simple, setiap pemain dibekali sebuah handgun dan sebuah rompi. Nah nanti dibagi berdasarkan 2 team: Merah dan Hijau dan setiap pemain punya nickname sesuai dengan layar yang ada di handgun. Setiap pemain harus menembak team lawan (Gak bisa friendly fire) ke arah rompi. Kalo kena nanti rompinya nyala putih terang dan senjata lawan nggak bisa dipake selama 5 detik dan nggak bisa ditembak lagi selama 5 detik sampai lampu putihnya kembali normal. 
Permainan berdurasi 15 menit setiap ronde. Setelah 15 menit permainan selesai dan akan dihitung team mana yang memiliki score paling besar atas menembak paling banyak anggota team lawan. Kerennya akan di bagikan kertas score setiap pemain diurutkan berdasarkan ranking point yang diraih(point perorangan). Akan keliatan deh siapa yang paling jago dan siapa yang nembak nggak pernah kena hahahahaha. Ini game gw itung sebagai game+sport, abis main wih keringetan+ketawa-ketawa. Gimana yah liat kelakuan temen gw yang kaget pas kegep ngumpet, yang kejebak di sarang musuh lalu di bully rame-rame, lagi konsen nembak dikagetin dari belakang sampe nyerang rame-rame sambil teriak-teriak wah fun banget deh!

Beberapa foto yang kita ambil:


Bagian depan



Disediakan Nintendo Wii sebagai fasilitas saat break antar game

Ruang tunggu yang berada berseberangan dengan ruang tunggu dengan Wii

Briefing room 

Peraturan in-game

tampak dalam, gelap ya memang hha 

Sang owner, Mr.Jean and the gank 





kalo ada yang tertarik nih infonya:

Address: Jl.Raya Kelapa Hybrida Kav. 20 / Jakarta (dekat MKG3) (021) 4587 6910

Our Hours of Operation (MINIMUM 8 years old)
Monday-Thursday   11 am – 11 pm

Friday  11 am – 12 am
Saturday 10 am – 1 am

Sunday  10 am – 10 pm

WEEKENDS PRICE  (FRIDAY THRU SUNDAY, AND PUBLIC HOLIDAYS)
1 Session of Laser Game Rp. 50.000,-
+ Additional session of Laser Game Rp. 30.000,-
[1 game session last 15 minutes. It's very sporty! 20 minutes break in between]

WEEKDAYS PRICE (MONDAY THRU THURSDAY)
1 Session of Laser Game Rp. 40.000,-
+ Additional session of Laser Game Rp. 25.000,-

Ini promonya:





Jumat, 16 November 2012

Jumat, 26 Oktober 2012

Seksi Itu Pintar


Pembahasan kali ini sedikit mengarah ke 17+. Dari 10 lelaki yang gue tanya sesuatu apa yang melekat di bagian tubuh wanita yang bisa membuat gairah meningkat, 7 lelaki menjawab buah dada sisanya menjawab bokong. Yang mau gue bahas disini apakah wanita tahu tentang hal itu? Ataukah mereka sengaja pura pura tidak tahu? Adanya pertanyaan ini tentu ada sebabnya. Kebanyakan wanita dijaman sekarang itu memakai pakaian yang sangat terbuka apalagi yang memiliki buah dada besar seakan akan dia ingin mempertonjolkan kalau dia punya dada yang besar. Wanita suka dilihat atau mereka mempunyai jiwa pamer tetapi jika lelaki melihat, wanita nya marah dan berkata "ih ini cowo matanya ngeliatin itu gue mulu, gue gampar nih" aneh bukan? Dia yang sengaja memamerkan, ingin terlihat seksi, dan mempertonjolkan apa yang menjadi kelebihannya tetapi jika dilihat marah. Seharusnya dia senang apa yang menjadi tujuannya itu berhasil kalo tidak ingin dilihat jangan mempertonjolkan, lelaki juga tidak akan sengaja melihat ataupun berfikiran yang ke arah sana jika wanita tersebut bergaya lebih elegan, ataupun ingin dilihat seksi bukan berarti harus terbuka, wanita terlihat seksi itu bukan dari lekukan tubuhnya yg terlihat tetapi tindakan dan perilakunya. Bukan juga tindakan yang murahan, tetapi berprilaku baik, elegan dan pintar dan dimana sisi seksi itu akan keluar dengan sendirinya. Mulailah menjadi pintar wahai kaum wanita dalam berpakaian jangan nanti bertemu dengan pria nekat dan wanita tersebut diperlakukan layaknya wanita pinggir jalan yang dibayar. "be a classy not a trashy" sayonara kawan! 


Ardiansyah

Selasa, 02 Oktober 2012

Kamis, 27 September 2012

acknowledgment


Posisi kamar seperti ini adalah posisi yang nyaman menurutku. Meja belajar yang menghadap timur, sebuah berkah tersendiri saat matahari mulai menanjak naik di atas awan putih beralaskan langit biru yang luas. Aku terbangun jam 6 kurang 15 menit, tidak ada sebab khusus atau aneh, saat aku membuka mata, aku langsung mengingat-ingat jam berapa tadi aku tidur, terdiam sebentar, lalu teringat, ya, aku sudah mulai tidur dari jam 12 malam. Aku bangkit dari kasurku, kamar masih di dalam pelukan kegelapan dan dinginnya ac kamar. Matikan ac, buka gorden dan bergegas ke kamar mandi.

Segar, itu yang aku rasakan setelah keluar dari kamar mandi. Sinar matahari masuk ke dalam kamar melalui celah-celah di atas jendela kamarku. Sungguh nikmatnya. Seolah ingin menghentikan waktu untuk sesaat dan menikmati setiap belaian dan harum nafas dari sang fajar. Mungkin ini adalah salah satu keindahan hidup yang diberikan oleh Tuhan semesta alam kepada manusia yang terkadang terlupakan. Tidak perlu menghabiskan waktu hingga setengah babak pertandingan sepak bola, hanya sekitar 15 detikpun sudah cukup melegakan. Aku keluar kamar, di meja makan aku hanya melihat mama yang sedang menyiapkan setangkap roti tawar dengan isi selai coklat. Kemudian aku duduk di hadapannya yang hanya di pisahkan oleh meja makan.

"morning ma. gimana tidurnya?" sapaku di pagi ini yang hanya di jawab oleh mama dengan anggukan kecil sembari tetap mengolesi selai cokelat di atas tangkapan kedua yang ternyata tangkapan roti yang pertama tadi di persembahkan untukku.

"ma, aku hari ini kayaknya pulang sore, gak jadi malem, mau ngerjain tugas soalnya" itu bukan sebuah pertanyaan, jadi aku tidak perlu menunggu respon dari mama, dan aku kemudian menyantap roti isi selai coklat. Tak lama waktu berselang, aku mengambil tas ransel yang telah kusiapkan di samping tempat duduk, bangkit dan kemudian berpamitan kepada mama,

 "pergi dulu ma" dan pintu rumah pun siap menyambut. Hari ini aku memilih untuk naik kendaraan umum, bus. Berjalan menyusuri trotoar dengan dihiasi  beberapa pejalan kaki yang memiliki kepentingannya masing-masing, dan ini adalah sebuah hal yang cukup menarik bagiku. Dalam satu tempat, beberapa orang dan beberapa kepentingan. Tidak saling tegur sapa hanya karena belum kenal, terlalu malas untuk menegur orang yang "hanya sekedar tahu" atau bahkan tidak peduli satu sama lain. Aku berhenti di halte tempat biasa aku menunggu bus dan tidak seperti biasanya, kali ini halte cukup sepi, tidak lebih dari 7 orang ada di halte ini. Huufftt, sayang, dia tidak ada di halte. Dia, ya, seorang wanita yang biasa naik bus dari halte yang sama denganku, sepertinya rumahnya tidak jauh dari halte ini. Sebenarnya hanya terdapat beberapa faktor sehingga aku tertarik dengannya. Pertama, dia memiliki wajah yang tidak terlalu cantik, namun manis, dan menarik. Kedua, dia memiliki rambut panjang bergelombang berwarna coklat kehitam-hitaman. Ketiga, dia memakai kacamata. dan keempat, sembari menunggu bus, dia selalu mendengarkan  ipod -karena saat aku menemukan dia kedua kalinya di halte ini dia sedang mengeluarkan ipodnya- dan membaca buku , yang terkadang novel. Kemudian tak lama kemudian, bus yang aku tunggu dari tadi akhirnya datang juga. dan lagi-lagi, keheranan menaungi diriku, bus yang biasanya penuh, kali ini lebih lengang, kemudian aku berjalan ke deretan bangku yang ditengah, aku duduk, dan kemudian melakukan kebiasaanku selama di bus, mendengarkan musik melalui ipod, dan memandangi pemandangan di luar bus. Sepertinya hari ini -setidaknya sejauh ini- cukup berbeda, dan aku hanya dapat berharap yang ada adalah sebuah perbedaan yang baik, bukan buruk. Semoga.

Aku membuka mata sedikit demi sedikit, yang kudapatkan adalah seberkas cahaya yang cukup terang, menyilaukan. Meraba-raba samping bantalku, untuk melihat jam dari hp. Jam di hp menunjukkan angka yang cukup mengejutkan, 06.15. Terperanjatnya aku dari tempat tidur. Langsung mandi ala kadarnya, berlari ke garasi, membuka pintu mobil, dan menyalakannya. Tidak perlu menunggu lama aku langsung mengeluarkan mobilku dari garasi dan langsung segera bergegas ke kampus. Aku mempunyai alasan yang cukup logis kenapa aku terburu-buru saat mengetahui aku terbangun pukup 06.15, karena pada mata kuliah jam 07.00 nanti, aku sudah mengoleksi 4 absen, dan dosen yang mengisi mata kuliah ini hanya memiliki toleransi keterlambatan 10 menit, on time. Saat keluar dari daerah rumahku, aku langsung membelokkan mobilku ke arah pertigaan yang dimana kondisi di pertigaan itu apabila lewat dari jam 6 pagi, sangatlah tidak bersahabat. Semuanya bercampur aduk di situ, dari kendaraan umum yang berpolusi tinggi sampai kendaraan yang tidak berpolusi. Dari jauh aku telah melihat antrian yang cukup panjang di lampu merah pertigaan tersebut dan bersamaan dengan itu, aku mengecek sudah jam berapa sekarang ini. Ya, sebuah deretan angka yang sangat mengkhawatirkan, 06.40. Estimasti lamanya  terjebak di tengah-tengah kemacetan kurang lebih selama 10 menit, dan ini masih di lampu merah pertigaan dekat rumah, belum lampu merah perempatan di depan sana yang bisa memakan waktu kurang lebih 5 menit dan aku masih memiliki waktu 5 menit lagi sebelum aku tidak dapat mengikuti ujian tengah semester yang kurang lebih berarti mata kuliah ini aku failed.

Aku masih berada di antrian mobil pertigaan yang mengawali kesemerawutan pikiranku di pagi hari. 7 menit telah berlalu, dan tiga menit lagi aku akan terbebas dari kemacetan di pertigaan ini, setidaknya itu perkiraanku. 15 menit telah berlalu, aku baru saja menuju perempatan besar yang tentu aku akan kembali dihadang oleh kemacetan. Perkiraan aku meleset sebanyak 5 menit. Sudah tentu perkiraanku meleset, bagaimana mau tidak meleset, kejadian yang terjadi di pertigaan itu pun juga diluar perkiraanku. Terdapat sebuah kendaraan mini bus yang mogok yang sungguh sayang sekali hanya satu orang saja yang terdapat di kendaraan tersebut, maka sudah dapat ditebak, dia mengalami kesulitan yang luar biasa hingga akhirnya petugas yang berwenang membantu mini bus tersebut yang sangat disayangkan datangnya petugas sungguh sangat menyita waktu yang cukup lama. Singkat cerita aku telah sampai di antrianku selanjutnya, yaitu sebuah perempatan besar. Waktu sudah memperlihatkan pukul 07.05. Jujur saja, aku sudah sedikit pasrah, kepasrahan untuk mengulang mata kuliah yang sama di tahun depan. Membayangkannya saja sudah memuakkan, bagaimana nanti saat menjalaninya.

Akhirnya aku sampai kampus jam 07.20. Sudah sungguh terlambat. Aku turun dari mobil dan langsung berjalan menuju kelas yang berada di lantai empat. Saat sampai di depan kelas, pemandangan di dalam kelas dapat dikatakan cukup tegang -memang seperti itu setiap mata kuliah ini berlangsung,kondisi kelas yang tegang- dan aku melihat sang dosen seolah sedang menjelaskan apa yang dituliskannya di white board. White board di muka kelas terlihat sudah setengah dipenuhi oleh tulisan-tulisan dan grafik oleh sang dosen. belum juga setengah jam, tapi setengah white board sudah penuh, sungguh satu lagi kejadian yang diluar perkiraan dalam mengawali hariku hari ini. kemudian aku memberanikan diri untuk masuk kelas,

"pagi pak" langsung sang dosen membalikkan badannya yang semula menghadap white board dan sembari menanggapi salamku

"kau tahu kan ini sudah telat? kenapa masih berani masuk?, beri saya alasan logis" tanggapan yang membuat diri ini terkejut bukan main. Dan dengan nada serendah mungkin aku menjawab.

"karena absen saya sudah 4 dan hanya karena telat 10 menit bukan berarti saya akan mengulang mata kuliah yang sama tahun depan" jujur, dengan jawabanku itu, aku yakin akan diperbolehkan mengikuti kuliah di kelasnya. Kemudian, sang dosenpun menghela nafas dan menjawab dengan nada yang tidak tinggi namun cukup menusuk bagiku.

"4 kali kau absen dan ke 4nya sebelum ujian tengah semester, ditambah tidak ada sama sekali surat keterangan sebagai simbol tata krama kamu sebagai mahasiswa, sebuah tindakan yang bodoh membiarkan orang sepertimu masuk ke dalam kelas saya" langsung setelah menutup bibirnya, sang dosen kembali membalikkan badannya ke arah white board dan tampaknya menulis sebuah materi yang akan disampaikannya hari ini. Tanpa berargumen lagi, aku langsung keluar dari kelas.Sungguh pagi hari yang memuakkan. Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiranku semalam apa yang terjadi pagi ini . Benar-benar menyebalkan. Sangat menyebalkan.

Terdengar cukup mustahil, menunggu di meja makan dari pukul 06.30, dan dia belum juga datang. Cukup tidak di masuk akal kalau dia lagi - lagi datang terlambat menjemputku -walau kesabarankupun dapat dikatakan tidak logis. Kuliah pertama memang pukul 07.00 dan dosennya pun tidak masalah dengan absen, jam berapapun datang selama dia masih memberikan materi , ya tetap di absen. namun, sayangnya aku harus memberikan kabar yang cukup buruk kepada pasanganku yang sudah menemaniku selama 2 tahun dan baru semester ini ada jadwal yang sama dengannya, bahwa aku bukanlah tipekal mahasiswi yang kuliah hanya untuk mengejar absen dan sebenarnya dia sudah mengetahui mengenai ini. Hari pertama dia menjemput beberapap minggu yang lalu, dia langsung menunjukkan salah satu sikap buruknya ini, terlambat. Tentu belum menjadi sebuah masalah karena aku sendiripun belum tahu bagaimana tipekal dari dosen yang mengisi mata kuliah ini. Saat tahu beliau tidak bermasalah dengan absen , memang di sisi lain hati ku timbul perasaan lega, namun kemurahan hatinya berbanding terbalik dengan materi perkuliahan yang dia sampaikan di kelas ini. Sebuah materi yang apabila terlewat 5 menit saja, maka lebih baik tidak masuk kelas dan meminjam catatan dari teman yang mencatat atau membuat sebuah kesimpulan poin per poin dari materi yang diberikannya.

Kemudian, pertemuan kedua yang dimana tentu apabila pasanganku terlambat itu akan menjadi sebuah masalah, memang, belum menjadi sebuah masalah. benar, dia terlambat menjemput dan aku pun otomatis terlambat masuk kelasnya. Sudah dapat ditebak, aku melewati cukup banyak materi yang diberikannya. Minggu berikutnya, aku telah meneguhkan dalam diriku, apabila dia hari ini terlambat lagi, maka minggu ini adalah hari terakhir dia dapat menjemputku. Ya, dia kembali terlambat dan aku juga tidak menunjukkan paras wajah yang menunjukkan kekecewaan. Namun, saat di mobil, aku membuka percakapan yang sepertinya tidak cocok untuk kukeluarkan di saat pagi, apalagi di pagi hari yang cukup cerah,

"mmm mulai minggu depan aku biar di anter ayah aja ya" sembari mengarahkan pandanganku ke wajah charmingnya.

"loh, kenapa? gara-gara aku telat?"

"yak, tepat sekali"

"yaaa aku sih gak masalah sih sebenernya, tapi aku lebih mikir ke ayah kamu. Kasian aja bangun pagi-pagi dan nganter anaknya ke kampus, belom nanti pulangnya macet" terkejut adalah respon yang aku alami. Ternyata cukup perhatian juga dia dengan ayahku. Dan aku menjawab singkat karena pikiranku dipenuhi dengan keterkejutanku tadi,

"oke"
dan pukul 06.45, dia akhirnya datang, aku masuk ke dalam mobilnya dan kami segera pergi. Aku sudah tidak tahu lagi dia sudah mengumpulkan berapa poin apabila keterlembatannya itu di wakilkan oleh banyaknya poin yang terkumpul. Memang, dia pernah datang tepat waktu sehingga aku tidak terlambat datang ke kampus, namun itu hanyalah sekali, ya, satu kali. Setibanya di kampus, kelas ditiadakan, dan aku sampaikan kepadanya keinginanku untuk ke perpustakaan,

"aku ke perpus dulu ya" memang haru aku akui, aku berharap dia ikut ke perpus dan membaca bareng atau sekedar mencatat ulang materi perkuliahan. Namun dia lebih memilih untuk ke mobilnya untuk tidur. Tidur? menjadi wajar kalau dia datang lebih awal untuk menjemputku, namun, kenyataannya? membuat heran. Tidak kuambil pusing, akupun masuk ke perpustakaan. Salah satu keuntungan datang ke perpustakaan di jam yang dapat dibilang masih pagi, masih bebas memilih tempat yang terbilang nyaman. Aku duduk di meja yang menghadap ke pintu masuk. Tas, ku taruh di bawah, dan aku mengambil laptop dengan tujuan untuk merapikan catatan yang masih berantakan. Ketikan belum mencapai satu halaman, tapi pandanganku teralihkan kepada seseorang yang baru saja masuk ke perpustakaan,

"wah, tumben sekali sudah datang jam segini" pikirku dalam hati. Wajah menariknya, di tambah dengan sikapnya yang terlihat dingin, menjadi daya tarikku, apalagi kalau dia sedang membawa buku di tangannya. Dia berjalan, kearahku, jantungku berdegup semakin kencang, dan, saat dia melewati mejaku, harapan dia duduk di samping mejakupun sirna. Namun, kekecewaanku berjalan hanya kurang dari 3 menit. Ternyata dia duduk di sampingku, dan jujur saja ini mengaburkan konsentrasiku dalam merapikan catatan. Tentu saja, sebagai seorang perempuan yang memiliki harga diri dan sedikit gengsi yang tinggi, aku tidak memperlihatkannya. Jantungku berdegup, aliran darah dalam tubuh ini seolah berubah menjadi kencang mengaliri setiap sudut-sudut tubuhku. Tentu saja kami tidak bertegur sapa, aku belum pernah sekalipun berkenalan dengannya dan tidak ada sedikitpun harapan untuk berkenalan, karena memang aku hanya kagum kepadanya. Tidak lebih. Aku melupakannya, dan kembali berkonsentrasi kepada pekerjaanku. Pekerjaan mahasiswi, bukan pekerjaan seorang kekasih yang ditinggal tidur oleh pasangannya.

Dwi Muchtar
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...