Senin, 23 Februari 2015

Tiang Pancang
Dwi Muchtar20.40 0 comments

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Mengapa demikian ? setan, dan iblis di kutuk oleh Tuhan, sebagai penawarannya, setan dan iblis diizinkan untuk menggoda manusia hingga kiamat. Malaikat, makhluk Allah yang paling bertakwa, sebagai pengiringnya, malaikat tidak memiliki nafsu. Manusia, memiliki otak pikiran, nafsu, dan iman. Maka dari itu, mutlak hukumnya bagi manusia untuk menjadi seseorang yang memiliki pendirian, dan kedaulatan dalam berpikir. Keharusan tersebut bukan sekedar tuntutan yang kosong tanpa ada dasar. 3 elemen yang telah disebutkan menjadi pondasi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya, memiliki nalar pemikirannya sendiri. Dalam arti, menjadi manusia yang berdaulat.

Kedaulatan yang menempel pada pribadi manusia memiliki kaitannya dengan statusya sebagai makhluk sosial yang memiliki komunikasi dan relasi dengan individu-individu lainnya. Dalam sebuah lingkaran sosial, tercipta gagasan-gagasan yang lahir dari individu-individu yang terkumpul di dalam lingkaran tersebut. Gagasan-gagasan yang muncul tersebut, memiliki latar belakangnya masing-masing, tergantung dari sang individunya. Apabila satu individu memiliki nalar dan logika yang sama, maka individu yang satunya akan mengikuti gagasan dari individu lainnya. Sah, namun, harus memiliki syarat yang tadi disebutkan diatas, sepakatnya sang individu tersebut haruslah berdasarkan pada nalar pemikirannya sendiri, bukan sekedar “ikut-ikutan” atau “kayaknya keren”. Dua dasar tersebut jauh dari kata berdaulat. Tidak memiliki pondasi pemikiran yang kuat. Kekuatan nalar yang lemah. Berangkat dari hal tersebut itu lah, apabila muncul lawan diskusi -atau apabila menggunakan kata-kata sarkastik, muncul musuh- yang berada di depan siap melawan segala argumentasi kita, bersyukurlah. Mereka bukan manusia lemah yang sekedar “ikut-ikutan”, tapi mereka kawan paling sejati. Menyerang kita dengan nalar logika yang kuat. Membongkar partikel-partikel di otak kita.

Kembali pada kedaulatan berfikir. Sebagaimana apa yang dikutip dari John Stuart Mill, “over his own body and mind, the individual is sovereign”, tubuh kita mutlak hukumnya untuk dikuasai oleh diri kita sendiri. Bukan media, bukan buku-buku petunjuk “menggapai hidup bahagia”, dan lain sebagainya. Media memang sebuah sarana informasi yang otentik dan aktual. Selain kecepatannya dalam menggarap informasi, media juga terus memberikan kepada kita informasi-informasi baru dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Salah satu contohnya adalah media “A”. Media “A” ini memberikan informasi up-date dalam satu hari bisa saja mencapai 5 sampai 7 informasi. Dari informasi yang diterima melalui media “A”, informasi yang sama juga bisa kita dapatkan melalui media “B”, “C”, “D”, dan seterusnya. Informasi itu bersifat informatif dan deskriptif tanpa memerhatikan beberapa latar belakang pihak-pihak yang terlibat di dalam informasi yang kita terima tersebut. Dari situlah muncul istilah opini publik yang dapat memengaruhi nalar logika kita sebagai manusia. Dan maka dari itu lah, kita sebagai manusia yang pada dasarnya berdaulat dilarang keras untuk dikuasai atau dijajah oleh media. Berikutnya adalah buku motivasi dalam menjalani kehidupan. Buku motivasi dalam menghadapi kehidupan ini ditulis oleh orang yang melegitimasi dirinya sendiri sebagai seseorang yang telah sukses dan membagi kesuksesannya kepada orang lain dengan menggunakan metode-metode yang menurutnya ampuh untuk digunakan demi menggapai kesuksesan. Ada yang perlu dicermati, satu individu dengan individu lainnya sudah merupakan harga mati memiliki latar belakang sosial, materi, dan pola pikir yang berbeda. Berangkat dari perbedaan latar belakang itu juga, setiap individu berbeda dalam melihat sebuah permasalahan dan memecahkan sebuah masalah. Sudut pandang yang berbeda, otomatis memiliki keterkaitannya dengan sebuah hal yang digadang-gadang sebagai kesuksesan yang ingin dibagi dengan masyarakat luas. Memang, bisa saja standard yang digunakan sebagai kesuksesan akan sama, tetapi, bagaimana cara menggapainya dan melihatnya tentu jauh berbeda. Hal ini, merupakan suatu hal yang harus dipegang teguh bahwa buku “menggapai kesuksesan” tidaklah bersifat general, tidaklah bersifat umum, tetapi hanya bersifat egoism individualistic semata.

Berdiri sebagai manusia yang seutuhnya atau manusia yang berdaulat memiliki tantangan yang tidak terlihat. Tidak terlihatnya tantangan tersebut menjadi ujian diri kita sendiri. Semakin terlihat tentu semakin mudah dalam menghadapinya, begitu juga sebaliknya, semakin tidak terlihat, semakin sulit kita melihatnya. Bisa dianalogikan dengan dunia pertemanan. Akan jauh lebih mudah untuk menunjuk siapa musuh kita dibanding menunjuk siapa teman kita sesungguhnya. Dengan faktor-faktor eksternal yang dapat menggoyahkan kedaulatan kita dalam berpikir, itu akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Memilah informasi, menyingkirkan pengganggu dalam hidup kita, menyingkirkan siapa-siapa saja yang mengukung kita dalam berfikir adalah pekerjaan rumah sendiri. Kedaulatan berfikir yang akhirnya membawa kita sebagai manusia seutuhnya adalah kebutuhan kita yang ke empat setelah sandang, pangan, dan papan. Menjadi manusia seutuhnya adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seseorang. Bukan orang lain yang memuja, dan bukan orang lain juga yang memuji. Hanya manusia dan Sang Raja manusia yang dapat memahaminya.



Selasa, 17 Februari 2015

Sejarah Masa Lalu
Dwi Muchtar21.30 0 comments

Pelajaran sejarah, baik itu jenjang Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas masuk dalam tatanan pelajaran hafalan yang dimana siswa dituntut untuk menghafal segala detail apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan nilai yang baik. Indikator nilai yang baik ditentukan melalui standart kurikulum yang berlaku. Satu contoh yang dapat diangkat adalah materi Perang Dunia II. Secara garis besar, siswa diwajibkan menghafal nama-nama seputar persitiwa Perang Dunia II seperti dimana awal pendaratan Nazi saat menginvasi Prancis, apa negara pertama yang diinvasi Nazi, siapa pemimpin-pemimpin negara sekutu yang menjadi lawan Nazi dalam Perang Dunia II, dan lain sebagainya. Saat ulangan tiba, dimana nilai seorang siswa dipertaruhkan tanpa memedulikan latar belakang kapasitas nalar dan logika siswa, pertanyaan yang ada dalam lembar soal dapat dipastikan memiliki sifat yang deskriptif dan informatif. Baik tidaknya nilai seorang siswa bergantung dari seberapa baik hafalannya atas materi yang bersangkutan. Kemudian, fenomena tersebut akhirnya memunculkan sebuah pertanyaan. Apakah sejarah hanya sebatas hafalan baku yang bersifat deskriptif dan informatif ?  

Sejarah secara sekilas dapat diartikan sebagai sebuah peristiwa yang telah terjadi. Namun apa pengertian sejarah hanya sesempit itu ? Dalam sebuah film hasil besutan Nicholas Hytner, “The History Boys” yang merupakan adaptasi dari karya Alan Bennett terdapat sebuah peran yang diperankan oleh Russell Tovey dimana ia dan beberapa temannya sedang latihan dalam menghadapi interview untuk masuk Universitas Oxford atau Cambridge. Tiga gurunya sebagai pihak yang akan menyampaikan sebuah pertanyaan, dan salah satunya menyampaikan sebuah pertanyaan, “how do you define history, Mr. Rudge ?” dan Rudge yang diperankan oleh Russell Tovey menjawab, “how do i define history ? It’s just one fucking thing after another”. Berangkat dari statement Mr. Rudge tersebut, yang tergambar di pikiran kita adalah sebuah bingkai dunia yang didalamnya terdapat beberapa peristiwa yang memiliki kaitannya dengan peristiwa lainya. Salah satu contohnya adalah rangkaian antara Perang Dunia II dan Perang Dingin. Memang, di dalam penelitian yang konvensial terdapat berbagai versi terkait “kapan dimulainya Perang Dingin”, namun, dalam sebuah program National Geographic Channel,  “Apocalypse : The Second World War”, dalam penutupan program tersebut, diperlihatkan scene Winston Churcill, Franklin D. Roosevelt, dan Joseph Stalin duduk bersama dalam Yalta Conference dengan narasi yang mengemukakan bahwa itu adalah akhir dari Perang Dunia II dan sekaligus menjadi awal dari Perang Dingin. 

sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Yalta_Conference

Keterkaitan antara Perang Dunia dan Perang Dingin memang sangat erat. Sama saja dengan peristiwa-peristiwa lainnya yang ada di dunia. Apabila mau di susun dengan rapih, maka akan memiliki antrian yang cukup panjang dari peristiwa yang terjadi hari ini, hingga awal peristiwa yang terjadi di depan mata kita. Dan itu akan membutuhkan waktu yang sangat banyak hingga akhirnya tercipta sebuah gerbong peristiwa yang panjang.

Dalam pengumpulan peristiwa-peristiwa yang ada di dunia ini, outputnya tidaklah bisa hanya dengan menggunakan premis “Sejarah Dunia”. Apabila sebuah premis hanya terbatas pada “Sejarah Dunia”, maka itu sendiri membangun dinding pemahaman mengenai sejarah itu sendiri. Di dalam dunia terdapat lingkaran-lingkaran sosial yang tidak dapat hanya diwakilkan dengan dua kata sederhana itu saja. Beberapa contohnya adalah sejarah Perang Salib, sejarah pendudukan Israel atas Palestina, dan lain sebagainya. Memang dua peristiwa itu masuk dalam “Sejarah Dunia”, tetapi apakah akan detail pembahasannya ?


Dalam memahami satu peristiwa yang dapat mengisi slot “Sejarah Dunia”, hal yang perlu dilakukan tidak hanya menghafal kapan dan dimana peristiwa yang bersangkutan, melainkan, mengetahui dan memahami secara mendalam adalah hal yang mutlak untuk dilakukan. Seperti yang dikemukakan oleh George Hegel, “Reality is a historical process”, maka dalam sebuah peristiwa, tidak mustahil apa yang telah terjadi akan kembali terjadi di masa yang akan datang. Maka, berangkat dari jalan logika tersebut, sejarah tidak hanya terbatas pada hafalan-hafalan kaku yang dapat mendongkrak nilai. Sejarah adalah memahami rangkaian peristiwa dengan segala intrik dan jalan cerita yang ada. Karena sejarah akan selalu hidup, abadi, tidak pernah mati.

Minggu, 25 Januari 2015

Kontra - Pro Pelarangan Motor
Dwi Muchtar20.48 0 comments

Isu politik kita kesampingkan sesaat. Ada yang tidak kalah pentingnya disamping isu politik yang sedang memanas antara dua institusi penegak hukum Indonesia. Isu tersebut bersinggungan langsung dengan kegiatan sehari-hari warga DKI Jakarta, yaitu pelarangan sepeda motor melewati Jl. MH Thamrin dan JL. Medan Merdeka Barat.

Pelarangan sepeda motor melintasi dua ruas jalan protokol tersebut memiliki dasar akan mengurangi kemacetan. Lalu bagaimana solusi bagi para pengguna sepeda motor yang memiliki destinasi di dua ruas jalan tersebut ? telah disediakan lapangan parkir untuk menaruh motor dan tersedia bus gratis yang dipasok oleh Tahir Foundation. Permasalahan selesai ? belum. Muncul beberapa pertanyaan setelah beberapa baris kalimat tadi, dari “lalu bagaimana dengan service / layanan delivery makanan yang mengantar ke kantor-kantor ?” sampai dengan argumen “kan pengendara motor juga bayar pajak, kenapa kita ga boleh lewat thamrin sama medan merdeka barat ?”, bahkan ada juga argumen yang bernada kelas sosial, “masa orang kaya doang yang boleh lewat jalan thamrin sama medan merdeka barat? Kita yang bawa motor semakin susah aja hidupnya”. Suara-suara tersebut merupakan cerminan masyarakat Jakarta yang berseberangan dengan kebijakan pelarangan motor tersebut. Setelah ada kontra, akan ada pihak yang pro. Bagi masyarakat yang mendukung kebijakan tersebut, membawa argumentasi pada sebagian besar perilaku pengendara motor. Argumen mereka sederhana, “motor itu gila, mereka ga punya otak, kalo nyenggol mobil kayak ga ada salah, main pergi begitu aja !” atau “baguslah ga dibolehin biar ga ada orang-orang rese yang seenaknya aja bawa motor” ya, kita juga tidak bisa mengelak kenyataan yang terjadi di lapangan kalau pengendara motor sebagaian besar banyak melakukan hal-hal yang membuat naik pitam, baik pengendara roda empat, pengendara bus umum atau pejalan kaki sekalipun.

Kalaupun pelarangan tersebut memiliki dampak pada berkurangnya kemacetan, tetap saja terjadi benturan dengan argumen-argumen dari pihak yang kontra terhadap kebijakan ini, belum lagi ada pihak-pihak yang pencarian nafkahnya terpotong dengan kebijakan ini, seperti tukang ojek misalnya. Selain itu ada beberapa hal yang lebih fundamental ketimbang pelarangan kendaraan roda dua untuk melintasi dua ruas jalan tersebut, seperti peremajaan bus-bus kota yang sudah using dan perbaikan manajemen waktu transjakarta yang melewati koridor satu. 



Jumat, 07 November 2014

Soekarno Dalam Karya
Dwi Muchtar16.05 0 comments

by : Chairandy Fajri (@chairandy) 


Hanung Bramantyo kembali menunjukkan profesionalitasnya. Tidak main-main, sutradara terkenal ini merilis sebuah film dari seorang tokoh terkenal, bapak bangsa, seorang proklamator, Indonesia,  Ir. Soekarno.


Beliau memang dikenal sebagai sutradara yang sering kali membuat film-film besar dengan jumlah animo penonton yang bukan main. Baru saja tepat di tanggal cantik lalu, 11 Desember 2013 (11-12-13), beliau sebagai sutradara sekaligus penulis bersama Ben Sihombing, merilis film tokoh besar tersebut. Terlihat bahwa  film Soekarno memang buah karya dari tangan Hanung Bramantyo, film yang tergolong baru masuk pada penghujung tahun 2013 ini, telah menduduki peringkat 4 sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak ditahun 2013 lalu.

sumber : http://www.21cineplex.com/soekarno-movie,3322,03SOEO.htm

Film ini menceritakan mulai dari penggantian nama Kusno menjadi Soekarno, masa kecil Soekarno, keikutsertaannya dalam upaya meraih kemerdekaan melalui jalan politik, cerita cinta Soekarno dengan istri dan keluarga, peran besarnya terhadap Belanda dan Jepang, hingga keberhasilan kemerdekaan Republik Indonesia.

Soekarno merupakan tokoh besar yang berperan hebat dalam kemerdekaan negara kita. Pidato beliau selalu berhasil memikat hati rakyat dan mengobarkan semangat perjuangan. Kecakapannya dalam dunia politik membuat dia kerap kali menjadi pemimpin dan ketua dalam organisasi-organisasi baik yang dicetuskan oleh rakyat Indonesia sendiri, maupun bentukan penjajah (Belanda dan Jepang).

Hal itu juga membuat beliau sering kali ditawan, dipenjara, dan dibuang penjajah dari kediamannya. Soekarno juga menjalani kisah cinta yang sulit. Dimulai dari perkawinannya dengan Inggit yang tidak menghasilkan keturunan hingga harus mengadopsi anak, kemudian jatuh cinta dengan salah satu murid yang ia ajar di sekolah ketika dibuang ke Bengkulu, Fatmawati. Beberapa tahun selanjutnya, ia berpisah dengan Inggit dan menikahi Fatmawati yang menghasilkan 3 anak.

Secara garis besar, film ini banyak menceritakan perjuangan-perjuangan hebat yang dilakukan Soekarno bersama Moh. Hatta dan rakyat Indonesia lainnya untuk meraih kemerdekaan. Film ini lebih banyak menunjukkan sisi positif yang dilakukan Ir. Soekarno. Hal ini yang menyebabkan film ini dianggap sebagai film yang membersihkan nama Soekarno, karena apabila setting alur cerita film ini dilanjutkan hingga akhir hayat Soekarno, akan banyak tampak kesalahan-kesalahan dan sisi negatif Ir. Soekarno yang berujung pada penyimpulan sikap negatif pada Soekarno di mata bangsa Indonesia. Namun di luar semua itu, film ini telah banyak membuka kembali mata kita tentang peran-peran besar Ir. Soekarno bagi kemerdekaan yang telah diperoleh negara kita, Republik Indonesia.