Minggu, 29 Juni 2014

Tikus-Tikus Malang
Dwi Muchtar21.29 0 comments

Mungkin tidak banyak yang tau bila Jakarta banyak menyimpan tikus-tikus busuk didalamnya dan pusat terbesar kemunafikan manusia-manusianya. Mempunyai paling banyak tempat ibadah berdiri dengan megahnya, namun mengundang pertanyaan tersendiri, apakah yang mengfungsikan rumah ibadah tersebut mempunyai kualitas yang megah (baca : baik) pula?

Berbicara mengenai manusia memang sifat nya individual dan subjektif. Namun yang saya maksudkan disini adalah banyaknya komunitas yang mengatasnamakan agama berprilaku tidak adil kepada penduduk Jakarta lainnya. Dari mulai membeda-bedakan suku, agama, sampai status sosial dijadikan sebuah isu yang kemudian diaplikasikan kepada sebuah perlawanan, hingga pembantaian. Yang saya bicarakan disini ialah pembantaian yang bersifat fisik ataupun rohani (dalam arti sebuah terminologi yang memiliki makna antonim dari “fisik”).
Sangat disayangkan apabila dimata dunia Jakarta dipandang sebagai ibu kota yang menjadi pusat bertenggernya bisnis dan kiblat segala aspek, tapi pada kenyataannya Jakarta adalah kota yang paling tidak aman dan nyaman.

Mentalitas? Ya jawabannya ada di busuknya mentalitas individunya yang secara tidak langsung mencerminkan jati diri kotanya. Sistem edukasi yang lemah, korupsi yang dijadikan gaya hidup, mudah nya membeli “pride” manusia dan masih banyak seribu rentet lainnya yang bisa dijabarkan.

Saya sendiri warga negara Indonesia, dan lahir di Jakarta Raya ini, tapi tinggal dan besar di kota ini tidak membuat nasionalisme saya bertambah, tak sepersen pun. Logikanya saya tidak mau darah daging saya kelak menjadi kategori dari tikus-tikus busuk tersebut. Bila punya uang cukup dan berjiwa mandiri, pindah warga negara adalah solusi yang paling efektif demi ketenangan lahir batin dan probabilitas menghasilkan harimau-harimau tangguh ketimbang tikus-tikus busuk.

By: Anonim


Bima – X : Sequel Bima Satria Garuda Superhero Produksi Indonesia
Dwi Muchtar21.28 0 comments


by : Chairandy Fajri ( twitter : @chairandy )




source : http://id.wikipedia.org/wiki/Satria_Garuda_BIMA-X



Bima – X, merupakan  serial  terbaru  dari  Satria Series hasil kreasi dari Reino Barack dengan format serial yang akan tayang  pada bulan September di RCTI setiap hari minggu pukul 08.30 WIB.

Pada hari Rabu tanggal 25 Juni 2014 di bilangan Jakarta Pusat saya sempat menghadiri press conference dari serial Bima – X . Acara tersebut cukup ramai dihadiri oleh pers dan kalangan fans juga ikut meramaikan acara press conference tersebut.
Di acara press conference tersebut Reino Barack selaku creator dan executive producer dari Satria Series yang di tahun 2013 lalu memproduksi dan menayangkan Satria Series pertama yaitu Bima Satria Garuda. Serial ini memiliki konsep live action dimana Reino Barack mendapat inspirasi dari serial tokusatsu yang tayang di Jepang seperti Kamen Rider, Ultraman, Metal Heroes, dan Super Sentai.
Hal tersebut menginspirasi beliau untuk membuat serial dengan konsep yang sama seperti tokusatsu yang cukup populer di Jepang, maka ia membuat Satria Series yang kelak akan menjadi franchise karya anak negeri. Dengan menggaet Ishimori Production yaitu production house yang memproduksi serial Kamen Rider di Jepang.

Di acara press conference tersebut Reino Barack dan Ishimori Production memaparkan konsep dari Bima – X dari plot, kostum, dan beberapa cast dari serial Bima – X. Bima – X merupakan sequel dari Bima Satria Garuda yang tayang di RCTI pada bulan Juni 2013 sampai Desember 2013 yang cukup mendapat animo dari masyarakat yang target pasaran nya adalah anak-anak usia 5 – 10 tahun dan fans dari serial tokusastu.
Untuk cast nya, masih diisi oleh cast Bima Satria Garuda seperti Chris Loho, Stella Cornelia, Aditya Al-Katiri, Rayhan S. Febrian, dan kali ini ada tambahan cast yaitu member dari idol group JKT48 Team K III yaitu Thalia. Untuk merchandise dari Bima – X sendiri masih tetap di produksi oleh Bandai salah satu produsen mainan terbesar di dunia. Prototype dari merchandise Bima – X juga dipamerkan di press conference Bima – X. Untuk Soundtrack, kali ini band dari Jepang yaitu Flumpool diberi kepercayaan oleh Reino Barack dan Ishimori Production untuk mengisi theme song untuk Bima-X. Band beraliran pop-rock tersebut membuat video conference di acara press conference Bima-X.



source : 



Saya pribadi optimis dengan sequel dari Bima Satria Garuda ini karena di series sebelumnya apa yang diekspektasikan belum bisa tercapai dan flow nya terlalu cepat dikarenakan episode nya yang sangat singkat, yaitu 26 episode. Pada serial Bima menurut saya terlalu cepat untuk menjelaskan keseluruhan cerita.
Untuk Bima-X sendiri episode nya nanti akan berjumlah 50 Episode dan akan disutradarai oleh sutradara yang lebih ahli dalam mengemas serial tokusatsu. Dan semoga visual effect yang ditampilkan di Bima – X lebih baik karena di serial sebelum nya in my opinion dari segi visual effect masih belum memuaskan. Saya pribadi berharap banyak semoga kualitas dari Satria Series ini lebih baik dan tidak kalah dengan serial tokusatsu yang cukup populer dari  Jepang.


source :  https://www.facebook.com/SatriaSeriesFanSite?fref=nf    

Plot Bima – X secara garis besar adalah setelah kehancuran kerajaan Vudo dari dunia parallel di Bima Satria Garuda. Kali ini Bima akan menghadapi musuh yang lebih berat yaitu The Black Priest yang merupakan petinggi kerajaan Vudo  yang akan berambisi ingin menguasai bumi beserta seluruh isinya.

Untuk desain kostum nya kali ini sang hero Bima mendapatkan upgrade form dan bisa merubah form nya sesuai dengan beberapa elemen di bumi seperti flame mode, storm mode, earth mode, dan magnetic mode.


Rabu, 25 Juni 2014

Lorong Waktu
Dwi Muchtar17.18 0 comments

Kita semua sudah sepakat kita hidup di tahun 2014, tahun di mana smartphone bertebaran di mana-mana, upload foto di instagram dan path, check in di mana kita berada, dan bahkan mempublish kita mau tidur dan bangun pun terjadi di tahun ini. Tapi tenang, gue ga mau jadi menjadi salah satu anggota kesatuan unit di dunia maya yang bernama “moral police” atau kalo gue boleh pinjem istilahnya Thom Yorke “karma police” karena semua orang ga ada yang sempurna. Dan kita semua berhak melakukan apapun dengan gadget kita. Ya percuma di beli kalo ga digunain sepanjang hari ya kan ?

Mungkin dulu kita bangun tidur langsung nyari jam dinding atau jam di meja belajar atau apalah itu, tapi sekarang kita lebih prefer untuk nyari smartphone atau hp atau tablet kita untuk ngecek “udah jam berapa nih ?”. Sekarang kalo kita mau ngobrol gampang banget, kumpulin temen-temen seperjuangan dan seideologi dalam membahas sesuatu atau bahkan seseorang di group yang sudah kita buat di BBM atau Line, dan jejaring sosial lainnya. Setelah itu ngobrol lah kita sepuas hati dan tak pelak kadang kita melupakan dunia nyata dan lebih memusatkan konsentrasi kita di teman-teman kita yang ada di angan-angan. Gue ga mau berargumen “ga kok, gue ga gitu”, gue pun begitu, kadang gue lebih milih scroll timeline path ketimbang nunggu dengan ngeliatin lalu-lalang kendaraan di depan gue sembari menanti lampu merah berubah menjadi hijau.
Ya, mau ga mau, terima ga terima kita harus akui kita sekarang hidup di jaman yang seperti itu. Ada usulan untuk dirubah dan balikin ke masa lalu ? selamat tidur dan selamat bermimpi indah.

Kalau memang untuk merubah zaman yang sekarang ini sangat mustahil, apakah pernah kita pernah membawa diri kita sendiri pergi jauh ke belakang ? Tentu saja bukan masuk ke dalam masa-masa era 70an saat jaman-jamannya Led Zeppelin atau Queen masih diperdengarkan di mana-mana. Tapi kita membawa diri kita mundur jauh ke belakang, masuk ke dalam era-era tahun 1500an atau 1600an. Ya, telfon, atau bahkan listrik saja belum ditemukan. Yang apabila kita ingin membangun sebuah komunikasi dengan kerabat atau teman yang terpisahkan beberapa kilometer jaraknya hanya ada tiga pilihan, kita berjalan kaki, menunggangi hewan untuk menggapainya atau kita berkirim surat dengan perantara seorang kurir.  

Berkirim surat, atau surat-menyurat dengan bantuan seorang kurir bukanlah seperti kita sekarang ini dalam mengirim line atau bbm atau jejaring sosial lainnya. Saat klik “send” maka pesan sudah terkirim, dan dalam beberapa detik pesan yang telah kita tulis sebelumnya akan diterima oleh orang yang kita kirimi di seberang sana, walau provider yang kita gunakan sedang mengalami gangguan sekalipun, pesan akan tetap terkirim dalam jangka waktu yang relatif singkat. Namun, terbayangkah bagaimana sebuah komunikasi yang terbangun dengan hanya perantara surat ? bahkan, untuk menulis sebuah surat saja harus melewati sebuah proses yang tidak sesingkat sekarang ini.

Dalam era tekhnologi seperti sekarang ini, mengirim pesan lewat gadget, yang dibutuhkan adalah memastikan pulsa atau kuota dalam gadget kita masih ada dan bagaimana kita merangkai kata-kata yang akan kita kirim. Setelah kalimat telah tersusun dengan rapih dan sistematis, maka pesan siap dikirim dan telah tiba beberapa saat kemudian.
Untuk urusan surat-menyurat, persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan tinta, pena bulu, secarik kertas, dan kalau hari sudah malam siapkan lampu minyak atau mungkin petromak. Saat semua sudah siap, kita mulai menulis surat dengan perlahan, dan penuh kehati-hatian, salah sedikit, maka sudah pasti kertas baru siap mengganti kertas yang sebelumnya kita gunakan.

Dapat dibayangkan bagaimana kehati-hatiannya saat menumpahkan kalimat yang akan kita sampaikan kepada kerabat kita di seberang sana. Dibalik kehati-hatian yang tercipta itu, terdapat sebuah kesabaran dan kecermatan dalam memilih kata-kata yang pas karena konsekuensi yang diterima dari kesalahan yang dilakukan. Tidak hanya itu, tidak menutup kemungkinan, apabila kita hendak mengirim sebuah surat, kata-kata yang tertuang seperti sebuah kata-kata resmi zaman sekarang ini. Dalam merangkai kata-kata yang akan dituangkan di dalam surat, jauh dari bayangan kita kalau yang digunakan adalah kata-kata tidak resmi. Ibarat kata, waktu dan kesempatan yang langka ini harus dimaksimalkan dengan sebaik mungkin dan tidak sembarangan dalam memilih kata-kata yang akan digunakan.

Dari situ dapat terbayang dalam pikiran kita bagaimana situasi masyarakat pada saat itu. Menghargai kesempatan yang ada dan tentu hidup secara utuh sebagai manusia. Kalau ia ingin mengadakan sebuah komunikasi dengan orang yang jauh, surat menjadi salah satu cara yang efektif dengan bantuan seorang kurir.
Setelah itu,sedikit kita berandai-andai. Kita taruh kondisinya seseorang ingin mengundang seseorang dengan cara mengiriminya surat, dan beberapa hari kemudian orang tersebut hadir. Lalu pertanyaan yang pantas untuk diajukan adalah “apakah sesederhana itu?” tentu tidak. Sang tuan rumah yang mengundang pasti sebelum mengundang orang tersebut telah memikirkan matang-matang apakah ia benar-benar ingin mengundang orang yang akan ia undang. Dan kemudian setelah tekadnya sudah bulat untuk mengundang orang yang akan ia undang, ia akan menulisinya surat, mengundang orang tersebut untuk datang. Jelas, responnya tidak langsung terjadi saat hari itu juga, selang beberapa hari kemudian surat balasan datang, dan kalau jawabannya adalah mengiyakan untuk memenuhi undangan sang pengundang, maka pihak yang mengundang akan mempersiapkan beberapa hal untuk menyambut orang tersebut, dan dari pihak yang diundang, ia akan mempersiapkan perjalanan yang tidak mustahil memakan waktu berhari-berhari, dan itu berarti, untuk memenuhi undangan seseorang dibutuhkan persiapan yang matang dan perhitungan yang tidak sembarangan.

Singkat cerita, orang yang diundang tersebut telah datang dengan membawa buah tangan yang dibawa dari tempat tinggalnya. Setelah ia datang, tentu sang tuan rumah telah menyusun acara apa saja yang akan ia berikan kepada sang tamu, sang tamu yang ia telah undang beberapa hari sebelumnya, sang tamu yang telah menempuh perjalanan yang cukup jauh, perjalanan yang melelahkan. Dan tentu saja, acara yang telah direncanakan oleh sang tuan rumah sebisa mungkin membuat sang tamu terpukau dan merasa terhibur dengan acara atau suguhan tersebut, terlepas seberapa besar nilai materinya. Setelah melewati beberapa hari di tempat tersebut, sang tamu menemui hari dimana ia harus pulang. Persiapan telah siap untuk membawa sang tamu pulang ke rumahnya, dan mereka pun saling berpamitan. Perjalanan panjang telah menunggu sang tamu, dan hari-hari yang ia lewati dengan sang tuan rumah tentu tidak akan ia lupakan begitu saja. Pertemuan yang mungkin singkat, namun mereka saling menghargai satu dengan lainnya. Menghargai waktu yang sangat berharga bagi kedua belah pihak.


Peristiwa di atas sengaja tidak dipaparkan secara mendetail, namun, peristiwa diatas dapat dijadikan sebuah acuan situasi masa lalu, kehidupan beberapa abad ke belakang tidaklah seperti sekarang ini yang apabila kita ingin mengundang seseorang tidak perlu melewati proses panjang seperti yang penulis paparkan diatas. Ada beberapa perubahan yang terjadi. Dan tidak mustahil budaya menghargai seseorangpun ikut terbawa arus perubahan. Entah ke dalam perubahan yang baik, atau perubahan yang buruk. Semoga kita dapat menjadi manusia seutuhnya, yang tetap menghargai dunia nyata sekitar kita, bukan dunia palsu yang muncul dan hilang dengan sekejap.