Selasa, 22 September 2015

Kupu-Kupu Jakarta (Part 1)
Reza Putra19.54 1 comments

Sebenernya di jakartanetwork.com versi lama gw pernah nulisin ini. Cuman karena ada program bersih-bersih blog & perubahan tampilan besar, jadi keapus. Sebenernya ini kisah cukup klasik bagi para sebagian pembaca, cuman gw pengen aja nyeritain lagi kisah ini karena menurut gw kisah ini cukuplah unik dan bahkan sampe ngetuk hati kecil.
Dalem hidup gw cukup lah pengalaman dari yang baik-baik hingga yang buruk-buruk. Banyak kisah yang gw dapetin soal "Indahnya" kehidupan di kota Jakarta tercinta ini. Sebelum kita masuk ke topik, Jakartanetowork.com udah fakum hampir 1 millenium lamanya. Sampe pas gw mau ngetik, tombol newpostnya ketutup debu yang cukup tebal. Dari postingan ini, gw mau membudayakan team jakartanetwork.com untuk bercerita berbagi pengalaman soal kota jakarta dan mungkin beberapa share dari kerabat-kerabat jakartanetwork.com bisa kita muat disini. Khusus gw, akan bercerita panjang lebar di jakartanetwork.com tentang berbagai sisi terselubung jakarta. Dari freesex, drugs, underground comunity hingga pesta sosialita yang tertutup yang gw jamin jarang orang tau.
well, di kisah yang kali ini gw mau membahas soal "Kupu-Kupu". Cukup lah menggelitik hasrat alamiah kaum adam apabila membayangkan soal "Kupu-Kupu". Dari eksotika bibir berpoleskan gincu, make up tebal, bau parfum menyengat khas "Dunia Malam" (Im realy sure banyak yg kebayang baunya pas baca ini) hingga baju yang melekat membentuk persis lekuk tubuh karya ukiran tuhan. Cuma itu yang mayoritas semua orang tau? Gw yakin 75% dari pembaca Menjawab YA.
Singkat kisah, gw pecah cerita ini menjadi beberapa part karena cukup panjangnya topik ini dan untuk part ini gw fokus ke kehidupan pribadi mereka.
"Lucu sih, aku gak pernah ngebayangin sampe hidup kayak gini" Ujar Mawar sembari menyalahkan rokok putih mentholnya. "Ini karena lagi freetime aja aku bisa ketemu kamu, kalo nggak mah aku di mess, pulang kerja langsung ke mess capek banget udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi deh" Karena kata-kata Mawar tersebut membuat rasa penasaran menjadi-jadi. "Hmm kalo boleh tau emang gimana sih keseharian kamu kalo di mess atau di tempat pijit?" "Yah gitu-gitu aja mas, pagi jam 9-10an aku udh ready, udah dandan. Rata-rata jam 11an ada aja yang dateng terus deh sampe jam 10 malem aku kerjanya. Diluar jam itu mau ngapa-ngapain susah, kadang kalo lagi ada tamu tapi perut laper yah mau nggak mau tetep nemenin makannya nanti kalo udah agak sepi. Malahan pernah rame seharian jadi nggak makan deh seharian." Dalam hati, wah panjang juga jam operasinya, gila. Sejurus kemudian Mawar melanjutkan sendiri ceritanya, nampaknya suasana kamar mendukung yang menjadikan Mawar mau membuka kisahnya. "Aku lama-lama jenuh banget sama ginian, sehari aku bisa sampe ngelayanin 10 orang. Yah aku harus profesional, tetep kasih performance yang bagus aku dapet uang....".
Biar dapet uang? masa kamu ngelayanin 10 orang nggak dikasih uang? "Oh aku dapet kok tapi cuman 30rb tiap ngelayanin 1 orang. Jadinya aku ngarep uang tips dari pelanggan. Makanya harus performance terbaik biar client puas & kasih uang tips, kira-kira 50rb-100rb". Dari pembicaraan itu gw mulai agak jenuh tapi penasaran, gw ajaklah ke cafe biar bisa ngopi-ngopi santai. Namun ajakan ditolak halus dengan alasan yang agak lucu "nggak usah mas, emang nggak malu apa jalan-jalan sama orang kayak aku?" "Yah santai sih aku bukan orang kayak gt kok (damn it!)" "bener mas nggak usah disini aja yah ngobrolnya" Kalo dibujuk-bujuk lagi jadi ribet deh yaudah mau gak mau nerusin ngobrol disini. "Aku kalo mau jalan ke mall itu seminggu cuman 1x dapet jadwal, itu juga mesti ditemenin orangnya mami nggak bisa free sendiri. Diluar dari itu kalo aku lagi dapet aku bisa free istirahat sampe udah bersih" "Lah kok keluar aja mesti ditemenin sih? emang anak kecil? hahaha"
"Iya tempat aku kerja emang semi kurung aku yaaaah bisa dibilang penjara lah...."
Langsung terpintas di otak gw cuman 1: Budak sex. Tapi gw berusaha mencari istilah lain, cuman nggak bisa. Kok gitu yah? gw yang baru tau apa emang ini sesuatu yang baru sih? Ok gw hitung gw yang baru tau. "Kok kamu mau sih kerja dengan sistem seextreme itu?" "Oh aku dijual orangtuaku..."
BANG! disitu gw berasa masuk ke alam lain sekaligus menyesal telah memanfaatkan kesempatan yang menguntungkan itu. Ok keep calm "Hmm? kok orang tuamu tega?" "Dulu ada orang yang balik dari Jakarta ke kampung udah naek mobil, nawarin kerjaan ke bapak aku..." "Dia ngasih uang 80jt ke bapak aku dan aku diajak ke Jakarta buat kerja". "Sebelum 80jt itu lunas+Untung aku gak boleh keluar dari tempat aku kerja". Gw yakin seyakin yakinnya orang tuanya tau anaknya mau diapain, namun uang cash sebesar 80jt untuk orang kampung itu sangatlah besar dan anaknya bisa bekerja di Jakarta. Ya Jakarta, kota yang terlihat indah diluar tapi busuk didalam seperti buah berry hutan yang memiliki warna yang cerah dan menarik tapi mematikan bisa dikonsumsi.
Secara fakta, urbanisasi terjadi hanya akibat sebuah pemikiran sederhana "Kerja di Jakarta itu sukses". Sebuah kebanggan keluarga kalau anaknya kerja di Jakarta, entah duduk di bangku bos atau mesti jongkok di kolong bangku bos. Mungkin itu hanya permasalahan sudut pandang.
Dari kisah Mawar membuka mata gw untuk bertualang lebih dalam dalam dunia itu. Mengungkap fakta terselubung tapi menarik untuk disimak.

Thanks to AB untuk petualangannya & cerita yang dibagi untuk Jakartanetwork.com


Senin, 23 Februari 2015

Tiang Pancang
Dwi Muchtar20.40 0 comments

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan adalah makhluk yang paling sempurna. Mengapa demikian ? setan, dan iblis di kutuk oleh Tuhan, sebagai penawarannya, setan dan iblis diizinkan untuk menggoda manusia hingga kiamat. Malaikat, makhluk Allah yang paling bertakwa, sebagai pengiringnya, malaikat tidak memiliki nafsu. Manusia, memiliki otak pikiran, nafsu, dan iman. Maka dari itu, mutlak hukumnya bagi manusia untuk menjadi seseorang yang memiliki pendirian, dan kedaulatan dalam berpikir. Keharusan tersebut bukan sekedar tuntutan yang kosong tanpa ada dasar. 3 elemen yang telah disebutkan menjadi pondasi manusia untuk menjadi manusia seutuhnya, memiliki nalar pemikirannya sendiri. Dalam arti, menjadi manusia yang berdaulat.

Kedaulatan yang menempel pada pribadi manusia memiliki kaitannya dengan statusya sebagai makhluk sosial yang memiliki komunikasi dan relasi dengan individu-individu lainnya. Dalam sebuah lingkaran sosial, tercipta gagasan-gagasan yang lahir dari individu-individu yang terkumpul di dalam lingkaran tersebut. Gagasan-gagasan yang muncul tersebut, memiliki latar belakangnya masing-masing, tergantung dari sang individunya. Apabila satu individu memiliki nalar dan logika yang sama, maka individu yang satunya akan mengikuti gagasan dari individu lainnya. Sah, namun, harus memiliki syarat yang tadi disebutkan diatas, sepakatnya sang individu tersebut haruslah berdasarkan pada nalar pemikirannya sendiri, bukan sekedar “ikut-ikutan” atau “kayaknya keren”. Dua dasar tersebut jauh dari kata berdaulat. Tidak memiliki pondasi pemikiran yang kuat. Kekuatan nalar yang lemah. Berangkat dari hal tersebut itu lah, apabila muncul lawan diskusi -atau apabila menggunakan kata-kata sarkastik, muncul musuh- yang berada di depan siap melawan segala argumentasi kita, bersyukurlah. Mereka bukan manusia lemah yang sekedar “ikut-ikutan”, tapi mereka kawan paling sejati. Menyerang kita dengan nalar logika yang kuat. Membongkar partikel-partikel di otak kita.

Kembali pada kedaulatan berfikir. Sebagaimana apa yang dikutip dari John Stuart Mill, “over his own body and mind, the individual is sovereign”, tubuh kita mutlak hukumnya untuk dikuasai oleh diri kita sendiri. Bukan media, bukan buku-buku petunjuk “menggapai hidup bahagia”, dan lain sebagainya. Media memang sebuah sarana informasi yang otentik dan aktual. Selain kecepatannya dalam menggarap informasi, media juga terus memberikan kepada kita informasi-informasi baru dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Salah satu contohnya adalah media “A”. Media “A” ini memberikan informasi up-date dalam satu hari bisa saja mencapai 5 sampai 7 informasi. Dari informasi yang diterima melalui media “A”, informasi yang sama juga bisa kita dapatkan melalui media “B”, “C”, “D”, dan seterusnya. Informasi itu bersifat informatif dan deskriptif tanpa memerhatikan beberapa latar belakang pihak-pihak yang terlibat di dalam informasi yang kita terima tersebut. Dari situlah muncul istilah opini publik yang dapat memengaruhi nalar logika kita sebagai manusia. Dan maka dari itu lah, kita sebagai manusia yang pada dasarnya berdaulat dilarang keras untuk dikuasai atau dijajah oleh media. Berikutnya adalah buku motivasi dalam menjalani kehidupan. Buku motivasi dalam menghadapi kehidupan ini ditulis oleh orang yang melegitimasi dirinya sendiri sebagai seseorang yang telah sukses dan membagi kesuksesannya kepada orang lain dengan menggunakan metode-metode yang menurutnya ampuh untuk digunakan demi menggapai kesuksesan. Ada yang perlu dicermati, satu individu dengan individu lainnya sudah merupakan harga mati memiliki latar belakang sosial, materi, dan pola pikir yang berbeda. Berangkat dari perbedaan latar belakang itu juga, setiap individu berbeda dalam melihat sebuah permasalahan dan memecahkan sebuah masalah. Sudut pandang yang berbeda, otomatis memiliki keterkaitannya dengan sebuah hal yang digadang-gadang sebagai kesuksesan yang ingin dibagi dengan masyarakat luas. Memang, bisa saja standard yang digunakan sebagai kesuksesan akan sama, tetapi, bagaimana cara menggapainya dan melihatnya tentu jauh berbeda. Hal ini, merupakan suatu hal yang harus dipegang teguh bahwa buku “menggapai kesuksesan” tidaklah bersifat general, tidaklah bersifat umum, tetapi hanya bersifat egoism individualistic semata.

Berdiri sebagai manusia yang seutuhnya atau manusia yang berdaulat memiliki tantangan yang tidak terlihat. Tidak terlihatnya tantangan tersebut menjadi ujian diri kita sendiri. Semakin terlihat tentu semakin mudah dalam menghadapinya, begitu juga sebaliknya, semakin tidak terlihat, semakin sulit kita melihatnya. Bisa dianalogikan dengan dunia pertemanan. Akan jauh lebih mudah untuk menunjuk siapa musuh kita dibanding menunjuk siapa teman kita sesungguhnya. Dengan faktor-faktor eksternal yang dapat menggoyahkan kedaulatan kita dalam berpikir, itu akan menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Memilah informasi, menyingkirkan pengganggu dalam hidup kita, menyingkirkan siapa-siapa saja yang mengukung kita dalam berfikir adalah pekerjaan rumah sendiri. Kedaulatan berfikir yang akhirnya membawa kita sebagai manusia seutuhnya adalah kebutuhan kita yang ke empat setelah sandang, pangan, dan papan. Menjadi manusia seutuhnya adalah sebuah pencapaian tersendiri bagi seseorang. Bukan orang lain yang memuja, dan bukan orang lain juga yang memuji. Hanya manusia dan Sang Raja manusia yang dapat memahaminya.



Minggu, 25 Januari 2015

Kontra - Pro Pelarangan Motor
Dwi Muchtar20.48 0 comments

Isu politik kita kesampingkan sesaat. Ada yang tidak kalah pentingnya disamping isu politik yang sedang memanas antara dua institusi penegak hukum Indonesia. Isu tersebut bersinggungan langsung dengan kegiatan sehari-hari warga DKI Jakarta, yaitu pelarangan sepeda motor melewati Jl. MH Thamrin dan JL. Medan Merdeka Barat.

Pelarangan sepeda motor melintasi dua ruas jalan protokol tersebut memiliki dasar akan mengurangi kemacetan. Lalu bagaimana solusi bagi para pengguna sepeda motor yang memiliki destinasi di dua ruas jalan tersebut ? telah disediakan lapangan parkir untuk menaruh motor dan tersedia bus gratis yang dipasok oleh Tahir Foundation. Permasalahan selesai ? belum. Muncul beberapa pertanyaan setelah beberapa baris kalimat tadi, dari “lalu bagaimana dengan service / layanan delivery makanan yang mengantar ke kantor-kantor ?” sampai dengan argumen “kan pengendara motor juga bayar pajak, kenapa kita ga boleh lewat thamrin sama medan merdeka barat ?”, bahkan ada juga argumen yang bernada kelas sosial, “masa orang kaya doang yang boleh lewat jalan thamrin sama medan merdeka barat? Kita yang bawa motor semakin susah aja hidupnya”. Suara-suara tersebut merupakan cerminan masyarakat Jakarta yang berseberangan dengan kebijakan pelarangan motor tersebut. Setelah ada kontra, akan ada pihak yang pro. Bagi masyarakat yang mendukung kebijakan tersebut, membawa argumentasi pada sebagian besar perilaku pengendara motor. Argumen mereka sederhana, “motor itu gila, mereka ga punya otak, kalo nyenggol mobil kayak ga ada salah, main pergi begitu aja !” atau “baguslah ga dibolehin biar ga ada orang-orang rese yang seenaknya aja bawa motor” ya, kita juga tidak bisa mengelak kenyataan yang terjadi di lapangan kalau pengendara motor sebagaian besar banyak melakukan hal-hal yang membuat naik pitam, baik pengendara roda empat, pengendara bus umum atau pejalan kaki sekalipun.

Kalaupun pelarangan tersebut memiliki dampak pada berkurangnya kemacetan, tetap saja terjadi benturan dengan argumen-argumen dari pihak yang kontra terhadap kebijakan ini, belum lagi ada pihak-pihak yang pencarian nafkahnya terpotong dengan kebijakan ini, seperti tukang ojek misalnya. Selain itu ada beberapa hal yang lebih fundamental ketimbang pelarangan kendaraan roda dua untuk melintasi dua ruas jalan tersebut, seperti peremajaan bus-bus kota yang sudah using dan perbaikan manajemen waktu transjakarta yang melewati koridor satu. 



Jumat, 07 November 2014

Soekarno Dalam Karya
Dwi Muchtar16.05 0 comments

by : Chairandy Fajri (@chairandy) 


Hanung Bramantyo kembali menunjukkan profesionalitasnya. Tidak main-main, sutradara terkenal ini merilis sebuah film dari seorang tokoh terkenal, bapak bangsa, seorang proklamator, Indonesia,  Ir. Soekarno.


Beliau memang dikenal sebagai sutradara yang sering kali membuat film-film besar dengan jumlah animo penonton yang bukan main. Baru saja tepat di tanggal cantik lalu, 11 Desember 2013 (11-12-13), beliau sebagai sutradara sekaligus penulis bersama Ben Sihombing, merilis film tokoh besar tersebut. Terlihat bahwa  film Soekarno memang buah karya dari tangan Hanung Bramantyo, film yang tergolong baru masuk pada penghujung tahun 2013 ini, telah menduduki peringkat 4 sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak ditahun 2013 lalu.

sumber : http://www.21cineplex.com/soekarno-movie,3322,03SOEO.htm

Film ini menceritakan mulai dari penggantian nama Kusno menjadi Soekarno, masa kecil Soekarno, keikutsertaannya dalam upaya meraih kemerdekaan melalui jalan politik, cerita cinta Soekarno dengan istri dan keluarga, peran besarnya terhadap Belanda dan Jepang, hingga keberhasilan kemerdekaan Republik Indonesia.

Soekarno merupakan tokoh besar yang berperan hebat dalam kemerdekaan negara kita. Pidato beliau selalu berhasil memikat hati rakyat dan mengobarkan semangat perjuangan. Kecakapannya dalam dunia politik membuat dia kerap kali menjadi pemimpin dan ketua dalam organisasi-organisasi baik yang dicetuskan oleh rakyat Indonesia sendiri, maupun bentukan penjajah (Belanda dan Jepang).

Hal itu juga membuat beliau sering kali ditawan, dipenjara, dan dibuang penjajah dari kediamannya. Soekarno juga menjalani kisah cinta yang sulit. Dimulai dari perkawinannya dengan Inggit yang tidak menghasilkan keturunan hingga harus mengadopsi anak, kemudian jatuh cinta dengan salah satu murid yang ia ajar di sekolah ketika dibuang ke Bengkulu, Fatmawati. Beberapa tahun selanjutnya, ia berpisah dengan Inggit dan menikahi Fatmawati yang menghasilkan 3 anak.

Secara garis besar, film ini banyak menceritakan perjuangan-perjuangan hebat yang dilakukan Soekarno bersama Moh. Hatta dan rakyat Indonesia lainnya untuk meraih kemerdekaan. Film ini lebih banyak menunjukkan sisi positif yang dilakukan Ir. Soekarno. Hal ini yang menyebabkan film ini dianggap sebagai film yang membersihkan nama Soekarno, karena apabila setting alur cerita film ini dilanjutkan hingga akhir hayat Soekarno, akan banyak tampak kesalahan-kesalahan dan sisi negatif Ir. Soekarno yang berujung pada penyimpulan sikap negatif pada Soekarno di mata bangsa Indonesia. Namun di luar semua itu, film ini telah banyak membuka kembali mata kita tentang peran-peran besar Ir. Soekarno bagi kemerdekaan yang telah diperoleh negara kita, Republik Indonesia.