Rabu, 27 Agustus 2014

PERDA DKI Jakarta
Dwi Muchtar18.17 0 comments

Tahun politik. Bukan saja pemimpin negara ini dan pemimpin Jakarta yang berganti. Anggota parlemen pun mengalami perubahan. Tentu saja salah satu tugas dari parlemen, dalam hal ini adalah DPRD DKI Jakarta adalah untuk mengesahkan PERDA atau Peraturan Daerah sebagai payung hukum eksekutif dalam melakukan tugas-tugasnya. DPRD periode sebelumnya, 2009-2014 harus menyelesaikan 86 PERDA. Namun, dari jumlah 86, sudah 81 PERDA yang diselesaikan oleh anggota DPRD periode 2009-2014. Di satu sisi, saat hari terakhir masa jabatan DPRD periode 2009-2014, enam PERDA langsung diselesaikan secara bersamaan. Adapun enam PERDA yang diselesaikan pada akhir jabatan 2009-2014 dan PERDA yang diselesaikan pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :

  • ·      Perda Perubahan Atas Perda No 4 Tahun 1991 tentang Penyertaan Modal Daerah DKI Jakarta Pada Pembentukan Perseroan Terbatas Pembangunan Jaya Ancol.
  • ·      Perda Perubahan Kedua Atas Perda No 1 Tahun 1999 tentang Perubahan Bentuk Hukum Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta dari Perusahaan Daerah Menjadi Perseroan Terbatas Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta.
  • ·      Perda Perubahan Atas Perda No 4 Tahun 2014 tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah Perseroan Terbatas Transportasi Jakarta,
  • ·      Perda Organisasi Perangkat Daerah
  • ·      Perda Perubahan Kedua Atas Perda No 12 Tahun 2014 tentang Penyertaan Modal Pemerintah DKI Jakarta pada Perseroan Terbatas Jakarta Propertindo
  • ·      Perda Perubahan Atas Perda No 2 Tahun 2009 tentang Perusahaan Daerah Pasar Jaya

  • Dan adapun PERDA lainnya yang diselesaikan pada tahun 2014 ini adalah sebagai berikut :


  • ·      Perda APBD 2014
  • ·      Perda Rencata Tata Ruang Wilayah (RTRW)
  • ·      Perda Transportasi
  • ·      Perda BUMD Transjakarta
  • ·      Perda tentang Organisasi Perangkat Daerah, dan Perda Perubahan Atas Perda Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah
  • ·      Perda tentang Penyelenggaraan Reklame
  • ·      Perda Perubahan Atas Perda Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pajak Kendaraan Bermotor
  • ·      Perda Perubahan Atas Perda Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pajak Hiburan
  • ·      Perda tentang Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta
  • ·      Perda tentang Sistem Pengelolaan Bus Rapid Transit

Semoga, kedepannya, baik parlemen ataupun eksekutif dapat menjalankan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat dan memberikan yang terbaik untuk ibu kota tercinta ini DKI Jakarta.




Pengamanan SPBU
Dwi Muchtar18.06 0 comments

Pemilihan umum Presiden Republik Indonesia telah usai. Gugatan kubu nomor 1 Prabowo-Hatta telah ditolak oleh MK. Dan kini, Indonesia telah memiliki gubernur baru dan presiden baru. Basuki Tjahaja Purnama sebagai gubernur DKI Jakarta dan Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia terpilih tahun 2014. Namun, di ujung gegap gempita kompetisi politik, di akhir pertarungan dua kandidat tersebut ternyata bukan berarti tidak ada masalah di depan. Terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden diikuti dengan isu kelangkaan BBM di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, ibu kota Indonesia yang sedianya aman dari isu tersebut, ternyata tidak. Isu kelangkaan BBM yang menyeruak tersebut ternyata sampai juga di Jakarta. Salah satu indikator yang dapat mewakilkan hal tersebut adalah dengan diberinya pengamanan kepada masing-masing SPBU yang terdapat di Jakarta. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh KABID HUMAS POLDA Metro Jaya KOMBES Rikwanto, POLDA telah menyiapkan masing-masing dua personel untuk mengamankan SPBU di Jakarta dan sekitarnya. Hal tersebut merupakan tindakan prefentif dari pihak aparat keamanan. Namun, pengamanan yang dilakukan tersebut hanya sebatas pada SPBU milik pemerintah saja, untuk SPBU yang dikelola oleh pihak swasta, tindakan yang dilakukan adalah pengecekan yang lebih awal.

Selain itu, tindakan aparat untuk menanggapi isu kelangkaan BBM ini adalah mengawasi atas adanya tindakan penimbunan BBM. Bagaimanapun juga, permasalahan tidak mengenal momentum atau siapa yang menjadi pimpinan. Permasalahan adalah sebuah permasalahan yang membutuhkan kesabaran untuk penyelesaiannya. Pesta politik mungkin telah usai. Namun permasalahan akan terus bergulir.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Solo Exhibition “Meta/Mata” by Pupuk Daru Purnomo At Galeri Kesenian Jakarta 13 – 25 Agustus 2014
Dwi Muchtar16.09 0 comments


By Trisno Hendiansyah ( Instagram : thendiansyah )

Waktu itu, matahari kian bersemangatnya menerangi ibu kota. Di pikiranku hanya ada rasa ingin marah dengan panasnya yang sangat menyengat ini. Ingin aku marah, namun tidak bisa. Mohon maaf, entah aku sematkan kepada siapa, di tengah perjalananku menuju Galeri Kesenian Jakarta, aku kotori perjalanan ini dengan caci makianku kepada Sang Pencipta. Maafkan aku.
Dahaga sudah tak terbendung, gedung itu sudah terlihat dari kejauhan, semoga apa yang aku ingin saksikan dapat mengobati rasa dahaga, menentramkan hatiku yang dari tadi tidak bisa lepas dari keluh-kesah serta tak jarang makian.


Kaki ini aku langkahkan ke dalam Gedung Kesenian Jakarta. Melihat bentuk arsitekturnya saja, sudah membuat aku lupa apa yang aku alami 10 menit terakhir. Tak sabar aku melihat dengan nyata Solo Exhibition Meta/Mata karya Pupuk Daru Purnomo. Aku yakin, karya-karyanya dapat membuat perasaanku tenang, dan melupakan apa yang menimpaku beberapa menit yang lalu. Sebuah karya seni yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Antusias melambung tinggi. Kegembiraan ini sudah lama tidak aku rasakan. Meta/mata yang hanya menghasilkan jarak kurang dari 5 meter itu menghadirkan kehadiran sisi lain diriku, menghadirkan rajutan rasa penarasan, menggembirakan kegembiraan. Meta/Mata yang akan aku hiasi dengan imajinasi yang tak sebatas anatomi manusia.

Meta/Mata adalah sebuah karya yang menggambarkan kisah dramatik seorang Pupuk Daru Purnomo yang mengalami permasalahan dengan telinga dan matanya. Pupuk Daru Purnomo lahir di Yogyakarta 16 juni 1964. Pernah menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa & Desain di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan seni lukis tahun 1987 – 1995.




Tahun 1995 sampai sekarang beliau aktif dalam pameran tunggal dan pameran bersama di Singapore, Jakarta, Bandung, Bali dan Yogyakarta. Sampai sekarang beliau tinggal dan berkarya di kota kelahiranya, Yogyakarta.

Matanya yang terancam tidak berfungsi dengan baik, dikarenakan retina dan katarak yang menggerogoti indera penglihatannya. Telinganya juga mengalami gangguan. Beliau banyak menghabiskan waktunya untuk menemui dokter ahli atau spesialis, tak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri.


“Meta/Mata” adalah sebuah karya yang yang memiliki ketajaman melampaui mata berupa ide-ide, imajinasi, fantasi, harapan, dan afirmasi yang ada dalam diri Pupuk Daru Purnomo. Meta/Mata bukanlah sebuah karya seni biasa. Meta/Mata dibentuk oleh imajinasi yang menembus batas indera manusia. Imajinasi yang menerobos hukum anatomi manusia. Sebuah nilai seni yang tidak dapat dipelajari di kelas. Sebuah nilai seni yang tidak dapat diciptakan di dalam laboratorium. Nilai seni yang menggugah perasaan. Jiwa damai bersemayam di dalam diri ini. Kepuasan tak ternilai dengan materi. Kebahagiaan tumbuh abadi. Meta/Mata menyiram jiwa ini yang sedang dahaga.  




Rabu, 20 Agustus 2014

LIGHT UP THE NIGHT
Dwi Muchtar17.02 0 comments

By : Rama Arnandita  

Udara panas dan sedikit lembab membuat perbedaan dengan ibu kota negara kita, Jakarta cukup signifikan. Keteraturan tidak perlu dibahas, kedisiplinan para pengendaranya juga lebih baik tidak perlu dimasuki ke dalam ranah pembicaraan. Dari semua perbedaan-perbedaan yang membuat mengernyitkan dahi itu, sirna saat aku dapat melihat Singapore Flyer, Theatre Esplanade dari kejauhan, dan Marina Bay Street Circuit yang kurang dari dua bulan di sana akan diselenggarakan sebuah perhelatan akbar the 2014 Formula One Singapore Grand Prix.
Saat melihat landscape pemandangan itu, kedua kaki ini aku langkahkan semakin penuh dengan semangat, dengan determinasi yang cukup tinggi. Aku tidak sabar apa yang akan aku temui dalam beberapa menit kedepan di dalam area balap Marina Bay Street Circuit yang juga menjadi tempat diselenggarakannya F1 Grand Prix itu.

Di dalam Marina Bay Street Circuit, ternyata salah satu maskapai penerbangan terbaik di dunia, yaitu Singapore Airlines menjadi sponsor utama acara yang bertemakan otomotif ini. Di dalam acara ini terdapat Vintage & Supercar Show, Go-kart Racing, F1 Pit Challenge, UV Face & Body Painting. Di samping sederetan mobil-mobil tersebut, dan beberapa rangkaian acara lainnya, para pengunjung juga bisa memenangkan undian berhadiah yang diselenggarakan oleh panitia penyelenggara.

Acara ini dimulai pada pukul 2:00 pm waktu setempat dan dibuka dengan Supercar Convoy Arrival. Di dalam Supercar Convoy Arrival terdapat sederetan mobil yang membuat tatapan kita tersita oleh kehadirannya. Beberapa diantaranya adalah Maserati GT Sport, Audi R8, Mclaren 650S, Lamborghini Aventador LP700-4, Ferrari 458, dan masih banyak lagi. Pada deretan convoy paling belakang terdapat satu Safety Car dengan kendaraan yang tidak kalah menarik yaitu Mercedes C63 Black Series.

Sesudah Supercar Convoy Arrival berlangsung, kita, para pengunjung dimanjakan untuk melihat Stunt Driving Performance. Acara yang bertemakan sesuai dengan namanya, yaitu kita dapat melihat beberapa stunt yang dilakukan pada film Hollywood. Beberapa trick tailgating, drifting, reverse speed turning, dan beberapa trik lainnya semakin memanjakan sepasang bola mata ini. Deretan mobil yang ikut memanasi aspal adalah VW Scirocco, Nisan 240SX, Mercedes SLK, dan Mitsubishi Lancer.

Dan, seiring berjalannya waktu, seiring berjalannya acara yang sangat menarik dan sedikitpun tidak keluar dalam pikiran untuk menyesal hadir di acara ini, akhirnya aku tibalah di penghujung waktu. Pada akhir acara dibagikan lucky draw yang berhadiahkan tiket the 2014 Formula One Singapore Grand Prix yang akan diselenggarakan pada tanggal 19, 20, 21 September 2014. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam penyelenggaraan Grand Prix F1 juga dimeriahkan oleh sejumlah artis yang akan meramaikan acara tersebut. Diantaranya adalah Mayday, Robbie Williams, Jennifer Lopez, Ziggy Marley, Pet Shop Boys, dan John Legend. Jadi, bagi para pecinta F1, jangan lupa untuk booking tiket dari sekarang ya !







Selasa, 19 Agustus 2014

Cerita Tambora
Dwi Muchtar16.50 0 comments

Jakarta. Ada banyak serangkaian kata-kata yang berlalu-lalang di pikiran kita semua ketika membaca, mendengar atau mengeluarkan kata-kata dari mulut kita. Dari pusat pemerintahan Republik Indonesia hingga tempat hiburan semua tersaji di kota yang memiliki kepadatannya di siang hari dan hampir setengahnya menghilang di malam hari. Kesesakan yang dialami itu tidak dapat diselesaikan dengan hanya memberi moda transportasi massal berupa bus kota seperti contohnya metro mini, kopaja, bus PATAS AC, kereta api hingga pemberlakuan 3 in1 yang masih juga menimbulkan kemacetan pada jam operasi 3 in 1 diberlakukan. Saat kesesakan sudah merangsang emosi kita hingga titik tertingginya, pertanyaan kereta bawah tanah seperti yang sudah di bangun di Singapura pun akhirnya tercetus. Namun sayang, moda transportasi yang tampaknya menjadi andalan negeri tetangga kita itu masih hanya sebuah konsep yang eksekusinya belum ada setengah dari kata-kata “selesai”.

Hingar bingar ibu kota terlihat jelas di depan mataku. Secangkir kopi panas yang sudah sekitar lima belas menit yang lalu tersedia di depan mataku sedikit-sedikit aku seruput. Lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki menghiasi pemandangan di depanku. Melihat kesibukan yang ada di hadapanku ini, aku mulai membayangkan apa yang ada di benak mereka semua. Apa yang sedang mereka pikirkan, kemana mereka akan pergi, urusan apa yang sedang mereka kerjakan, siapa yang sedang menunggu kehadiran mereka, atau siapa yang sedang mereka tunggu. Lalu-lintas di pikiranku pun tak kalah sibuknya.
Di tengah-tengah lalu-lalang yang ada, pikiran ini terhenti pada memoriku sekitar dua minggu silam bersama teman kecilku. Teman kecilku yang memiliki kisah hidup yang bisa dikatakan cukup unik. Dari pemikiran-pemikirannya saja, ia sudah masuk kategori itu.

Dari dulu ia memiliki nasib yang bisa dikatakan tidak menentu. Entah, ini karena memang bersumber dari dirinya yang sulit untuk berkomitmen dan tegas dengan hidupnya sendiri atau memang nasibnya yang kurang baik.
Terakhir aku bertemu dengannya, ia sedang bangga, sekaligus mengundang rasa simpatiku. Ia berbangga diri karena akhirnya ia berhasil kabur dari Ayah tirinya, lagi. Pernah, ia hidup di rumah susun di bilangan Jakarta Pusat selama satu minggu kurang lebih, sebelum di jemput paksa oleh anak buah dari Ayah tirinya. Bertahan satu atap dengan Ayah tirinyapun sama dengan lama ia tinggal di rumah susun tempat pelariannya itu.
Kemudian, sekarang ia berhasil lari dari Ayah tirinya lagi. Sekitar dua minggu yang lalu adalah pelarian ia yang ke empat kalinya. Dan ia berbangga diri karena pelariannya kali ini adalah pelariannya yang paling lama, tiga minggu, dan hendak memasuki minggunya yang ke empat.
Saat kami berdua bertemu aku langsung saja mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin untuk seseorang yang hidupnya teratur akan menganggap pertanyaan aku ini cukup aneh.
“lo sekarang kabur kemana ?” dan, sambil menyalakan rokoknya yang telah di apit oleh bibir atas dan bawahnya, menghembuskan asap dari bibirnya ia menjawab, “daerah Tambora, Jakarta Barat” selesai aku menyeruput teh hangatku, kembali aku melemparkan pertanyaan lanjutan,
“dimananya?”
“ga, ga akan gue kasihtau” membuang abu rokok di asbak yang menjadi pemisah antara aku dan dirinya.
“iya gue salah, tapi itu kan cuma sekali, masa lo ga percaya sama gue?” kali ini dia tidak menjawab dengan bibir dan suaranya. Gelengan kepalanya yang menjadi jawabannya. Setelahnya, ia bercerita banyak tentang pelariannya yang ke empat ini. Tentu saja, salah satu hal yang menarik adalah bagaimana ia tinggal. Tak terbayang oleh diriku sebelumnya, ia yang biasanya tinggal di sebuah kamar dengan kasur empuk dan dingginnya pendingin ruangan, harus menerima kenyataan yang hampir jauh dari sebagaimana ia dapatkan sehari-hari. Satu kamar pribadi terlalu mewah. Lantas ia harus membagi kamarnya dengan orang lain yang tidak ia kenal sedikitpun, secara shift-shiftan. Awalnya aku berpikir, tak apalah selama ia tidak menggelandang. Namun, saat ia memberikan penjelasan makna dibalik shift-shiftan itu membuat aku tertegun. Ia tidak kenal siapa yang sebelum dan setelah memakai ruangan yang akan ia pakai untuk tidur itu. Karena ia memakai shift malam secara permanen, maka ia akan membagi ruangannya dengan orang yang memakai shift siang. Dan saat ia kembali ke kamar tidurnya itu, tak jarang ia melihat beberapa benda yang sebelumnya hanya ia lihat di tv saja. Secara terpaksa ia harus membersihkannya terlebih dahulu sebelum ia menggunakannya untuk istirahat. Bersih atau tidak urusan belakangan. Yang utama adalah ia dapat beristirahat dengan tenang.

Pernah, suatu ketika saat ia hendak memejamkan matanya terjadi mati lampu. Saat itu ia berpikir mungkin itu hanya pemadaman bergilir saja. Namun, kejadian itu terus saja berulang-ulang terjadi. Setelah ia selidiki, ternyata ada orang yang mencuri listrik di tempat kamar tidurnya itu. Dan kebetulan sekali, suatu ketika ia menangkap basah pelaku yang sedang beraksi itu, di bentaknya orang tersebut dan kemudian sang pelaku mengurungkan niatnya tersebut. Selang beberapa detik terdengar suara dari belakangnya,
“sudah biasa di sini mas, biarin aja” diikuti oleh tawanya. Seorang lelaki tambun dengan telanjang dada berjalan meninggalkannya.
Tidak hanya perihal tempat ia tidur yang membuat aku tertegun. Pernah ia hendak memprint tugas kuliahnya di sebuah sudut tempat itu. Pertama ia datang ke tempat itu, ia berpikir “kecil amat tempatnya, penuh lagi”.
“mas, print dong” dan seorang petugas meraih flas disk yang telah diberikan sebelumnya oleh temanku ini. Kemudian saat mesin print hendak mencetak tugas kuliahnya, tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara orang yang terburu-buru,
“sebentar aja kok, udah di ujung nih !” dan selang beberapa detik semua orang yang ada di tempat yang sempit itu keluar. Keheranan temanku segera terjawab.
“loh mas, mau kemana?” sedikit panik temanku.
“bentar aja kok, mau ke kamar mandi dia, tuh” sambil menggerakkan kepalanya ke arah wc yang terdapat di sudut ruangan. Keunikan yang tidak hanya membuatnya heran. Aku pun dibuatnya heran.

Kisah yang ia lontarkan tidak berhenti disitu. Ia juga menceritakan kepadaku ada sebuah toko yang dimana pegawai yang bekerja dibiayai oleh sang pemilik toko untuk berkuliah. Sepulang kuliah, mereka semua kembali bekerja di toko itu dan perputaran kehidupannya terus seperti itu. Sebuah loyalitas di tengah jaman yang edan. Dan pemandangan ternak, masak dan bahkan mandi di pinggir jalan bukanlah menjadi pemandangan yang unik atau bahkan aneh. Sepertinya kehidupan yang benar-benar baru ini membuatnya ia nyaman. Membuat ia bersyukur atas apa yang ia miliki. Tidak ada lagi tempat makan yang hanya menyuguhkan gengsi di atas kenikmatan menyantap makanan. Tidak ada lagi harga diri yang direfleksikan dengan harta. Tidak ada lagi dunia maya nan palsu yang menjadikan gengi sebagai fondasinya. Semua yang kini ia temui begitu nyata. Semua yang ia temui begitu orisinil. Kenyataan hidup membuatnya untuk jujur. Kenyataan hidup membuat dirinya bersyukur. Kenyataan hidup yang membuat dirinya belajar makna hidup sesungguhnya.