Jumat, 07 November 2014

Soekarno Dalam Karya
Dwi Muchtar16.05 0 comments

by : Chairandy Fajri (@chairandy) 


Hanung Bramantyo kembali menunjukkan profesionalitasnya. Tidak main-main, sutradara terkenal ini merilis sebuah film dari seorang tokoh terkenal, bapak bangsa, seorang proklamator, Indonesia,  Ir. Soekarno.


Beliau memang dikenal sebagai sutradara yang sering kali membuat film-film besar dengan jumlah animo penonton yang bukan main. Baru saja tepat di tanggal cantik lalu, 11 Desember 2013 (11-12-13), beliau sebagai sutradara sekaligus penulis bersama Ben Sihombing, merilis film tokoh besar tersebut. Terlihat bahwa  film Soekarno memang buah karya dari tangan Hanung Bramantyo, film yang tergolong baru masuk pada penghujung tahun 2013 ini, telah menduduki peringkat 4 sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak ditahun 2013 lalu.

sumber : http://www.21cineplex.com/soekarno-movie,3322,03SOEO.htm

Film ini menceritakan mulai dari penggantian nama Kusno menjadi Soekarno, masa kecil Soekarno, keikutsertaannya dalam upaya meraih kemerdekaan melalui jalan politik, cerita cinta Soekarno dengan istri dan keluarga, peran besarnya terhadap Belanda dan Jepang, hingga keberhasilan kemerdekaan Republik Indonesia.

Soekarno merupakan tokoh besar yang berperan hebat dalam kemerdekaan negara kita. Pidato beliau selalu berhasil memikat hati rakyat dan mengobarkan semangat perjuangan. Kecakapannya dalam dunia politik membuat dia kerap kali menjadi pemimpin dan ketua dalam organisasi-organisasi baik yang dicetuskan oleh rakyat Indonesia sendiri, maupun bentukan penjajah (Belanda dan Jepang).

Hal itu juga membuat beliau sering kali ditawan, dipenjara, dan dibuang penjajah dari kediamannya. Soekarno juga menjalani kisah cinta yang sulit. Dimulai dari perkawinannya dengan Inggit yang tidak menghasilkan keturunan hingga harus mengadopsi anak, kemudian jatuh cinta dengan salah satu murid yang ia ajar di sekolah ketika dibuang ke Bengkulu, Fatmawati. Beberapa tahun selanjutnya, ia berpisah dengan Inggit dan menikahi Fatmawati yang menghasilkan 3 anak.

Secara garis besar, film ini banyak menceritakan perjuangan-perjuangan hebat yang dilakukan Soekarno bersama Moh. Hatta dan rakyat Indonesia lainnya untuk meraih kemerdekaan. Film ini lebih banyak menunjukkan sisi positif yang dilakukan Ir. Soekarno. Hal ini yang menyebabkan film ini dianggap sebagai film yang membersihkan nama Soekarno, karena apabila setting alur cerita film ini dilanjutkan hingga akhir hayat Soekarno, akan banyak tampak kesalahan-kesalahan dan sisi negatif Ir. Soekarno yang berujung pada penyimpulan sikap negatif pada Soekarno di mata bangsa Indonesia. Namun di luar semua itu, film ini telah banyak membuka kembali mata kita tentang peran-peran besar Ir. Soekarno bagi kemerdekaan yang telah diperoleh negara kita, Republik Indonesia.

Senin, 20 Oktober 2014

Perahu Kertas (part 1)
Dwi Muchtar18.04 0 comments

By : Chairandy Fajri (@chairandy)


http://id.wikipedia.org/wiki/Perahu_Kertas_(film)



Apa yang Anda harapkan ketika mengetahui salah satu novel kesukaan Anda akan diangkat ke layar lebar? Berharap adaptasi film yang akan divisualisasikan tidak jauh berbeda dan mengecewakan dari versi novelnya adalah sesuatu yang wajar dan realistis, alih-alih versi film hanya mengandalkan nama besar novelnya. Pada film Perahu Kertas yang diadaptasi dari novel karya Dewi ‘Dee’ Lestari.

Sebelum film Perahu Kertas beredar, Dee yang juga berperan sebagai penulis naskah cerita sudah mengingatkan ketika di wawancara oleh salah satu situs jaringan bioskop Indonesia bahwa adaptasi film tersebut akan memiliki sejumlah perbedaan dengan versi novelnya.

Dengan kata lain, akan ada penambahan dan pengurangan adegan. Menurut saya, bila memang sebuah film adaptasi akan berbeda dengan versi novelnya, seharusnya segala sesuatunya benar-benar berbeda sejak awal, baik dari segi konflik maupun alur. Walaupun ada kemiripan, cukuplah dengan kadar 20-30%.  Dengan demikian, para pencinta novelnya tidak berekspektasi lebih. Entah karena kadar sok tahu saya yang memang dewa atau kenyataan, saya yakin lebih dari 50% penonton film ini adalah mereka yang sudah membaca novel Perahu Kertas.

Tentunya, mereka yang sudah membaca novel Perahu Kertas berharap dapat merasakan ketepatan visualisasi Kugy yang mampu mengajak pembacanya bersimpati dengan kesedihan, kebahagiaan, dan kekecewaan yang dirasakannya.
Gadis mungil dengan karakter unik dan nyentrik ini selalu berpenampilan semaunya dengan jaket lusuh milik abangnya, berbeda dengan wanita berumur 17 tahun lainnya yang fashionable. Selain itu, penonton juga berharap adanya ketepatan penggambaran Keenan, Romeo-nya mother of alien ‘Kugy’, pemuda blasteran yang mencintai seni lebih dari apa pun dan tidak peduli dengan sekelilingnya.

Namun, apa yang terjadi dengan Kugy dan Keenan versi baru? Well, silahkan menonton film nya yang rilis pada tanggal 16 Agustus 2012 lalu

Sabtu, 18 Oktober 2014

Tendangan dari Langit (Part 2)
Dwi Muchtar18.17 0 comments

by : Chairandy Fajri (@chairandy)





Jika ditanya soal level fanatik bangsa ini terhadap olahraga sepakbola, saya tidak perlu ragu untuk menjawab “sangat tinggi”, Indonesia punya banyak penonton “gila bola” yang tidak hanya suka nonton pertandingan bola dan rela nongkrong di depan televisi untuk menonton tim kesayangan mereka main. Nah, pada saatnya masyarakat pecinta bola ini terpanggil untuk mendukung tim nasional, tidak peduli status yang menempel di tubuh mereka, semua jadi satu menyorakkan satu kata, yaitu “Indonesia”.

Tidak perlu jauh-jauh, jika masih ingat ajang piala AFF yang berlangsung beberapa tahun lalu , kita bisa melihat seperti apa kecintaan masyarakat Indonesia kepada sepakbola. Nasionalisme bukan lagi omong kosong ketika kita melihat puluhan ribu suporter me-merahkan Gelora Bung Karno, yup sepakbola bisa menyatukan bangsa ini dan bangsa ini memang cinta sepakbola.

Namun lain soal jika berbicara soal film lokal yang mengangkat tema sepakbola, ketika masyarakat begitu mencintai sepakbola, film bertema sepakbola justru tidak banyak. Dari puluhan film lokal yang muncul setiap tahunnya, film bertema olahraga, khususnya sepakbola bisa dibilang dapat dihitung dengan jari. Termasuk salah-satunya yang paling berkesan adalah “Garuda di Dadaku” (2009), film arahan Ifa Isfansyah tersebut, walau masuk dalam kategori film anak-anak, namun dikemas dengan benar dan sukses menjadi tontonan yang menghibur bagi orang dewasa juga. Kita butuh tontonan yang membuat semangat.

Kali ini sutradara ternama Indonesia Hanung Bramantyo mencoba sesuatu yang baru, kali ini untuk yang pertama kalinya, Hanung menggarap film bertema sepakbola. “Tendangan Dari Langit”, memang film yang dibuat untuk menghibur namun disini Hanung seperti karya-karya sebelumnya, tampak tetap ingin menyisipkan sebuah “sentilan”, untuk urusan sentil-menyentil tersebut film ini memiliki Sujiwo Tejo, kali ini tentu saja yang jadi “korban” adalah sepakbola di negeri ini.


Tapi itu hanya sebagian porsi “pemanis” dari apa yang akan ditawarkan film yang ceritanya ditulis oleh Fajar Nugroho (Queen Bee) ini, tendang-menendang si kulit bundar tetap jadi sajian utama.



TDL akan memperkenalkan kita dengan Wahyu, remaja berusia 16 tahun yang jiwa dan hatinya dipenuhi impian, serta cinta sekali dengan yang namanya sepakbola. Wahyu yang lahir dari keluarga pas-pasan dan tinggal di Langitan, sebuah desa di lereng gunung Bromo ini tidak hanya cinta sepakbola, tapi juga dikarunia untuk bisa pintar memainkan bola.

Karena bakatnya itu, Wahyu sering dipanggil untuk bermain di sebuah tim bola dalam pertandingan antar desa, dengan bantuan Hasan (Agus Kuncoro), pamannya, sebagai “manajer”. Tim yang diperkuat olehnya pun selalu menang dan Wahyu sering mendapatkan bayaran yang tidak sedikit untuk kemenangannya. Tapi kecintaan Wahyu terhadap sepakbola selalu terganjal oleh ayahnya (Sujiwo Tejo), yang tidak setuju anaknya bermain bola. Tentu saja, walau dilarang Wahyu tetap “bandel” dan  suatu hari takdir menghampirinya, mimpi untuk bisa bermain bersama Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan di Persema akan segera terwujud.

Tidak hanya Wahyu yang mimpinya bermain di Persema bisa terwujud, tapi juga saya, mimpi untuk melihat film bola yang seru akhirnya dikabulkan, melalui “Tendangan Dari Langit”. Film ini pun memang menceritakan tentang meraih sebuah impian, lewat cinta, kemudian mimpi itu berhasil diwujudkan, walau ditempeli berbagai dramatisasi disana-sini, TDL masih mampu menggambarkannya dengan sangat baik. Sekilas mengingatkan saya dengan film-film bertema olahraga ala Hollywood tapi tidak meninggalkan citarasa lokalnya. Masih ingat dengan film “Goal! The Dream Begins” (2005), bisa dibilang TDL adalah versi Indonesia-nya, saya bilang “versi” bukan berarti menjiplak, tapi mengikuti sebuah standar film “from zero to hero” yang selama ini sudah ada.

TDL tinggal meracik formula yang bisa dibilang “tidak baru” itu dan memasukkan unsur-unsur yang nantinya bisa dibilang Indonesia banget, hasilnya seperti yang saya bilang tadi ala Hollywood tapi masih bercitarasa negeri sendiri. TDL memang di luar ekspektasi saya, berasumsi film ini hanya biasa saja, tapi seperti terkena bola yang ditendang kencang oleh Hanung, saya lalu menyadari telah menonton film sepakbola yang secara mengejutkan seru sekali.

TDL jelas dibuat untuk menghibur kita dengan segala macam keseruan didalamnya, tapi disana juga banyak pelajaran yang bisa dipetik, ceritanya tidak membosankan dan dengan pemilihan dialog-dialognya yang menurut saya sangat tepat, film ini menjadi semakin nyaman untuk diikuti sampai selesai.

Kisah persahabatan Wahyu dengan Mitro (Jordi Onsu) dan Purnomo (Joshua Suherman) digambarkan begitu tulus dan terkadang terselip juga kelucuan-kelucuan diantara mereka. Kisah romansa Wahyu dengan Indah (Maudy Ayunda) juga disajikan dengan manis tidak cengeng dan berlebihan. Hubungan Bapak dan anak-lah yang tampaknya begitu menyita perhatian hati saya, begitu menyentuh dan chemistry antara Yosie Kristanto dan Sujiwo Tejo begitu apik, begitu juga akting yang ditampilkan keduanya, juara! “Tendangan Dari Langit” sudah sukses menghibur dan juga menyentuh hati penontonnya. Dengan kawalan Faozan Rizal, yang sudah sering bekerja sama dengan Hanung, dibalik kamera, alam Gunung Bromo pun dipotret dengan ciamik, menghasilkan gambar-gambar indah sebagai “sesaji” untuk memanjakan mata penonton.